Feeds:
Posts
Comments

Sarjana Godok

godok batinta

Sebetulnya, nama kue yang popular di Sumatera bagian tengah ini pun cukup sulit mestinya ditulis godo’ karena bunyi ujungnya seperti suku kata dengan huruf hamzah mati  dalam Bahasa Arab. Untuk memudahkan kita tuliskan saja seperti judul diatas yang mungkin tidak pas untuk orang-orang di bagian lain nusantara ini.

Kue ini entah apa disebutnya di tempat lain; entah ada entah tidak pula di mancanegara.  Ia terbuat dari parutan ketela atau hancuran pisang dengan campuran bahan lain lalu berbentuk bulat dan dilumuri gula.  Entah bagaimana pula mulanya kok godok berkonotasi makanan murahan dan kalau anak sekolah  dapat ponten nol maka disebut dia dapat godok.

Tak disangka, dua hari lalu dapat kisah unik tentang godok ini dari seseorang yang luar biasa.  Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sudah relatif senior, beliau cukup berilmu secara teknis dan profesional namun menjaga idealisme pribadinya. Beliau dikenal sebagai orang yang menolak jabatan dan lebih memilih tugas fungsional serta jadi dosen di luar jam dinas.

Suatu kali, seorang mahasiswa bimbingannya datang menjumpainya ke rumah dengan keluhan tidak dapat menemukan literatur tentang tugas akhirnya.  Sang Dosen hanya meminta mahasiswa itu menulis kata “godok” di catatannya dan menyuruhnya pulang.  Si Mahasiswa masih kebingungan ketika diantar keluar rumah dan sampai di pintu pagar sang Dosen berkata: ”Coba kamu cari kata itu dengan Google dan nanti ceritakan hasilnya pada saya…!”

Beberapa hari kemudian si Mahasiswa datang menjumpai sang Dosen dan menyampaikan apa yang dijumpainya. Ia menjelaskan apa itu godok dan berbagai variasinya. Ia juga menjelaskan makna selain makanan, sesuai dengan pemahaman di lingkungan lain.

Ketika si Mahasiswa sedang puas telah menyampaikan hasil googling itu, sang Dosen menjelaskan bahwa pada zaman sekarang sekedar godok yang mungkin kita anggap sepele saja masih bisa kita dapat infonya dengan mudah dan banyak dari internet.  Apatah lagi materi tentang tugas akhirnya yang merupakan satu bahasan keilmuan, pasti sudah bertaburan literature tentangnya.  Bahkan itu sudah banyak dibicarakan orang sebelum ada Google.  Lalu sang Dosen kembali menyuruh si Mahasiswa pulang.

Singkat cerita, si Mahasiswa akhirnya berhasil menyelesaikan studinya.  Namun sang Dosen tidak pula menceritakan bagaimana si mahasiswa itu mendapatkan berbagai literatur yang diperlukannya tapi tentu bukan untuk mendapatkan gelar Sarjana Google atau Sarjana Godok.

(sumber foto: http://dapurummumusasyi.blogspot.co.id/2013/02/gogok-batinta-pr-da-feb-2013.html)

Advertisements

masjid annur bird's eye view

Pernahkah anda mengisi waktu Ramadhan di Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau? Keadaan di Masjid yang besar itu tentu menyenangkan meski kadang ada kendala seperti AC ruangannya kurang dingin, air macet, listrik padam, atau acaranya kurang memenuhi selera. Tapi jika berkunjung dalam bulan Ramadhan, pernahkah memperhatikan ada seorang Pak Tua yang selalu ada di Masjid?

Beliau yang kita maksud adalah Pak Sarnol, 76 tahun, yang bersama isteri telah melakukan i’tikaf Ramadhan 11 kali berturut-turut. Pak Sarnol datang dari daerah dekat Bukittinggi, tepatnya Kecamatan Empat Angkat Candung, Agam, Sumbar. Meskipun beliau ada anak dan besan anak di Pekanbaru, namun bersama isteri yang berusia 72 tahun lebih memilih tinggal secara bersahaja di salah satu ruang di Masjid Raya An-Nur.

sarnol2

Pak Sarnol dulu adalah seorang pengusaha konveksi di kampungnya. Ketika empat putra dan putri bungsunya sudah mandiri, bersama isterinya ia lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk amal ibadah. Yang patut jadi catatan kita adalah konsistensi beliau dan kuat menempuh keadaan seadanya demi beramal ibadah. Di kalangan jamaah Masjid Raya An-Nur beliau juga dikenal sebagai orang yang ramah dan menyenangkan. Apa yang mendorong beliau dan isteri i’tikaf di An-Nur?

“Saya dari kampung dimana almarhum Ustadz Zul imam masjid ini dulu belajar. Lalu ada pula anak di Pekanbaru ni,” jelasnya.

Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa ia suka dengan Masjid An-Nur, kegiatan Ramadhannya tersusun dan diselenggarakan dengan baik, ustadznya bagus-bagus, pokoknya lebih banyak waktu bisa kita manfaatkan di masjid. Tak dijumpainya yang seperti ini di tempat lain. Karena itu tempat tinggal tidak jadi masalah karena lebih nikmat i’tikaf di masjid. Beliau memang sering terlihat baca Quran bila sedang tidak kegiatan di masjid.

“Rasa dekat ke umroh,” pungkas Pak Sarnol.

Subhanallah, seorang insan yang telah menunjukkan bukti keimanannya dan konsistensi dalam 11 tahun! Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan beliau dan keluarga kesehatan dan hidup yang barokah. Mudah-mudahan jadi motivasi pula bagi kita.

(foto Masjid Raya An-Nur by Pak Nesdi)

MAKNA AULIYA

Bisa di-share kepada umat Islam yang masih ragu.

CARA MEMAHAMI MAKNA KATA AULIYA DALAM AL QURAN

Oleh:
DR.AMIR FAISHOL FATH

( Pakar Tafsir Al Quran dari International Islamic University )
1. Kata aulya adalah jamak ( bentuk plural) dari kata wali artinya teman setia/pelindung/ pemimpin.
2. Dalam bahasa Arab kata wali sering digunakan untuk makna   pemimpin seperti Waliyyu Madinah / atau Waliyyu Mishr. Ini sudah menjadi istilah umum dalam buku-buju sejarah. Dari sini dalam bahasa Indonesia digunakan istilah Wali Kota, wali murid, wali nikah dan lainnya
3. Khusus kasus Al Maidah 51 jelas bahwa maknanya adalah tidak boleh bagi orang yang beriman mengambil wali dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Adapun orang yang mengatakan bahwa makna kata wali dalam ayat ini adalah ” teman setia” maka akan mengandung makna mafhum muwafaqah. Maksudnya apalagi menjadikannya pemimpin berupa gubernur atau wali kota.  Akan lebih tidak boleh.
4. Jika dikatakan ayat ini turun dalam suasana Perang Tabuk di mana maksudnya hanya pada saat perang saja tidak boleh mengambil pemimpin orang Yahudi Nasrani. Ini kesimpulan yang salah. Sebab ayatnya bersifat umum. Mencakup semua zaman dan situasi. Dalam kaidah ilmu tafsir yang berlaku adalah ” al ‘ibrah bi’umumil lafzhi la bi khususis sabab” ( yang diakui sebagai pijakan adalah umumnya makna ayat bukan kekhususan sebab).
5. Adapun hijrahnya sebagian sahabat ke Habsyah atau para pengungsi muslim ke Eropa atau negara lainnya yang mayoritas non muslim itu masuk dalam katagori darurat. Dalam kaidah Usul fikh ” adharuratu tubiihul mahzhuraat” ( Darurat membolehkan apa yang tidak boleh). Maka salah jika situasi darurat dijadikan dalil untuk mengubah hukum yang sudah paten.
6. Khusus untuk kondisi Indonesia yang mayoritas muslim tidak termasuk kondisi darurat sehingga harus memaksakan non muslim  menjadi pemimpin mayoritas muslim, Karena masih banyak orang Islam yang mampu memimpin.
7. Dan khusus kasus di Jakarta persoalan sebenarnya adalah penistaan terhadap ayat Al Maidah 51 yang dianggap sebagai alat bohong. Satu ayat saja dinistakan otomatis menistakan semua Al Quran. Sebab Al Quran satu kesatuan. Maka salah jika ingin mengaburkan persoalan sebenarnya dengan berdebat dalam wilayah tafsir. Sebab bagaimanapun menuduh satu ayat sebagai alat bohong adalah penistaan. Terlepas apapun  tafsirnya.

8. Sepanjang sejarah Islam sampai sekarang tidak ada satu ajaran pun untuk memusuhi non muslim. Maka salah jika menganggap kasus di Jakarta ini adalah kasus permusuhan terhadap non muslim pun juga salah jika dianggap sebagai pelanggaran terhadap kebhinekaan. Sungguh kasus di Jakarta ini murni masalah penistaan yang justru melanggar prinsip kebhinekaan dan tidak dihukum secara adil. Jadi pokok masalahnya adalah ketidak adilan dalam penegakan hukum hingga melahirkan permusuhan.Maka jangan dibawa ke mana-mana sehingga masalah pokoknya jadi kabur. Pun juga jangan dihubung-hubungkan dengan pilkada sebab ditempat lain ada juga gubernur non muslim yang tetap diakui secara demokratis karena tidak melakukan penistaan yang sama. Ini bukti bahwa umat Islam Indonesia sebenarnya sudah sangat toleran. Sungguh seandainya tidak ada pilkada kasus penistaan ini akan terus dituntut.

9. Sebenarnya masalah kepemimpinan dalam Islam sangat sensitif. Satu wanita muslimah saja diharamkan dalam Islam dipimpin oleh suami non muslim, apalagi satu umat. Tapi karena proses darurat demokrasi umat Islam di indonesia masih toleran jika disebuah wilayah ada non muslim jadi gubernur atau bupati. Dan tidak dipermasalahkan. Karena tidak melakukan penistaan seperti yang dijakarta. Jadi masalah DKI murni masalah penistaan.

10. Jika dikatakan bahwa tidak ada niat menistakan atau itu kata keselip. Apakah iya selevel pejabat wilayah besar melakukannya tanpa niat. Jelas sekali dilakukan dengan sadar bahwa itu direkam dan diungkapkan berkali- kali dalam momen yang berbeda. Semua orang yang mendengarnya akan sulit mengatakan bahwa itu tidak disengaja atau kata keselip.

11. Jika dikatakan bahwa ia telah minta maaf, umat islam telah memaafkan tetapi kasus hukum harus tetap diselesaikan secara hukum dengan adil. Agar jera dan tidak diulangi kembali oleh siapapun.

12. *Jika dikatakan bahwa lebih baik non muslim yang jujur dari pada muslim yang korup. Pernyataan ini salah berdasarkan kaidah usul fikih ” alqiyaas ma’al faariq baathil”  membandingkan dua hal yang tidak sebanding adalah bathil. Seharusnya perbandingannnya : muslim yang jujur dibanding non muslim yang jujur.*

13. Hukum memilih pemimpin non muslim untuk memimpin mayoritas muslim jelas tidak boleh berdasarkan Al Maidah 51. Ayat ini muhkamah (jelas). Ditafsirkan dengan cara apapun tetap begitu maksudnya. Ini ketentuan dari Allah bukan masalah SARA. Dan hukumannya juga jelas bagi orang islam yg melanggarnya, dalam ayat yang sama  ia akan digolongkan oleh Allah ke dalam golongan non muslim dan dimasukkan kepada golongan orang- orang zalim.

14. Jika dikatakan bahwa pernyataan penista bukan penistaan maka pendapat ini di buat buat. Sebab sudah mutawatir dan diakui oleh para ahli bahwa pernyataan itu  penistaan. Seperti seorang yang mengatakan bahwa matahari itu bukan matahari. Maka ini termasuk inkarul haq (mengingkari kebenaran) maka ini bathil, sebab tidak mungkin para ahli yg jujur bersepakat dalam kebatilan. Sabda Rasulullah saw ” La tajtamiu ummati aladh dhalalah”( tidak mungkin umatku bersepakat dalam kesesatan). Kaidah lain “Al ijma’u laa yunqadhu bil ijma’ ( kesepakatan tidak bisa di tolak dengan kesepakatan yang datang sesudahnya) apalagi hanya pendapat sebagian orang.

15. Jika dikatakan ada ulama  yang mempunyai pendapat lain. Saya katakan bukan ulama orang yang mengatakan halal pada apa yang sebenarnya Allah  haramkan.

Korupsi vs. Anti-Korupsi?

Tulisan ini tertuang setelah membaca komen di medsos dari seorang kawan yang sudah lama bermukim di Eropa: “Kalau kita kehilangan dia maka korupsi akan tumbuh bagaikan jamur di musim hujan lagi.” Komen ini dimaksudkan untuk Ahok sebagai salah satu peserta pilkada di DKI yang mengklaim sebagai orang bersih dan anti korupsi.

Usungan pilkada itu mungkin membanggakan karena pada dasarnya orang tak suka dengan orang yang melakukan korupsi. Apalagi bila terkesan dengan kelugasan Ahok terhadap anak buahnya (yang cenderung kasar) atau memang berkepentingan dengan menangnya Ahok, maka pemikiran itu jadi sangat menjanjikan.

Tapi bila kita lihat dengan mata hati yang jernih dan diterangi oleh cahaya kebenaran hakiki, akan muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar. Apakah Ahok memang bersih? Apakah orang selain Ahok akan melakukan korupsi?

Pemikiran tentang Ahok ini berangkat dari logika sesat dan menyesatkan, bahwa hanya Ahok lah yg anti korupsi. Ini sama sekali tdk benar. Ahok sendiri masih belum klir dalam banyak kasus yang dengan kekuatan besar bisa memadamkan hasil pemeriksaan lembaga resmi. Sebagai pejabat publik dia juga terkait dengan pihak swasta yang dalam aturan Indonesia ada ketentuannya agar tidak masuk kategori tindak pidana korupsi.

Selain itu, di Indonesia masih banyak sekali pejabat publik yang tidak korupsi dengan kinerja yang luar biasa. Mereka ada yang kepala daerah atau pun pejabat publik lain. Tanpa gembar-gembor media mereka bekerja baik dan telah berhasil merubah keadaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jadi ini bukan subjektivitas atau soal pribadi, karena penulis tidak kenal dengan para peserta pilkada DKI dan bukan pula penduduk DKI yang akan ikut memilih. Tapi ingin meluruskan kesimpulan yang sudah diusung ke-mana2 bahwa hanya Ahok yg anti korupsi sementara pihak lain akan korupsi.

Pembentukan opini ini tentu tidak lepas dari peran dan fungsi media. Sayangnya, sudah jadi keluhan umum bahwa kebanyakan media sekarang sudah bergeser fungsinya dari penyampai berita menjadi pembentuk opini. Kata ungkapan: siapa yg menguasai dunia, ia akan menguasai dunia. Mungkin ini yg dianut oleh Murdoch serta beberapa pemilik/pengendali media nasional.

Media bisa merubah suatu keadaan jadi berbalik dari yang sebenarnya. Bukan tidak mungkin yang tidak disukai atau diinginkan sang penentu, dgn sedikit kekurangan bisa dibully dan dihajar habis-habisan sehingga terpuruk. Sebaliknya, seorang yang diinginkan mungkin pula diangkat dan ditutupi kesalahannya sehingga melambung jadi tokoh yg ideal atau disebut media darling.

Akan jadi parah ketika dalam fungsi itu sudah masuk unsur ideologi dan kepentingan: ekonomi, politik, sosial, agama, dll. Dalam ideologi buatan manusia, cenderung ada pendapat bahwa yang ada di luar ideologi itu salah dan mesti dikalahkan, meski dengan segala cara. Maka muncullah proxy war yang sekarang terasa muncul di tanah air.

Bagi kita yang memiliki mata intelektual yang diterangi cahaya kebenaran Ilahiah, tentu harus bisa membaca keadaan dengan jernih dan objektif. Hendaknya kita tidak terbawa hanyut ke dalam pusaran proxy war itu yang bahkan berani meninggalkan keyakinan masing-masing. Bagi pemilih dan peserta pilkada, tidak ada yang salah dengan memilih calon berdasarkan latar belakang keyakinan atau agama.

Be positive! Jadi lah orang yang taat pada syari’at yang kita pegang masing-masing secara utuh (kaffah). Jangan mudah terpesona dengan yang bersifat artifisial dan kosmetika. Pemikiran yang jernih, objektif, dan independen in sya Allah akan menguntungkan hubungan personal diantara kita dalam kehidupan berbangsa dalam NKRI.

Semanggi

Dalam beberapa bulan belakangan ini orang-orang infrastruktur di Jakarta cukup sibuk membicarakan Semanggi. Ini nama jembatan simpang susun di pertemuan antara Jl Sudirman dengan Jalan Gatot Subroto, yang bentuknya seperti daun semanggi (clover leaf). Saat ini Pemerintah DKI sedang membuat perencanaan untuk meningkatkan jembatan ini, tentu untuk kelancaran lalu lintas di ibukota.

Bicara infrastruktur jalan mestilah dalam tinjauan layanan sistemnya. Maksudnya, kapasitas layanannya bukan tergantung hanya pada lebar, panjang, dan kemulusan permukaannya saja tapi harus dilihat juga dari keterkaitan jaringan jalan itu satu sama lain. Seandainya dalam sistem jaringannya ada bagian yang jadi bottle neck maka bagian itu ikut menentukan tingkat pelayanan keseluruhan.

Selain itu perlu juga ditinjau kapasitas layan atau panjang jalan dengan jumlah kendaraan yg harus dilayani pada suatu saat puncak (peak); bisa diambil 100% bisa 80% atau mungkin 60% dari volume saat peak. Untuk perkotaan, kalau mampu mengambil lebih tinggi tentu lebih baik, tentu dengan konsekwensi biaya yang lebih besar pula.

Tentang Semanggi, jembatan ini karya Ir Sutami itu (mungkin bersama Rooseno apa ya?).  Ketika itu Sutami adalah Menteri PUTL, karena Presiden Soekarno tidak yakin dengan disain tiangnya yang tidak tegak atau miring, maka untuk meyakinkannya, Sutami berada di bawah jembatan itu ketika ditest pakai pertama kali.

Sebab itu memang sayang kalau dalam peningkatannya nanti, harus hilang cirinya yang sudah jadi branding Highway Engineering di Indonesia. Namun dengan sekian banyak tenaga ahli di Jakarta, masalah kapasitas dan aspek bentuk ini tentu sudah ditinjau secara seksama.

Artinya, adanya rencana itu mengimplikasikan bahwa dalam sistem jaringan jalan kota Jakarta, Semanggi saat ini sudah menjadi salah satu bottle neck yang cukup besar pengaruhnya terhadap pelayanan sistem jaringan jalan ibukota sehingga perlu diperbesar kapasitasnya. Setelah ditingkatkan nanti kita harapkan akan nampak bedanya.

Akan tetapi, tuntutan peningkatan ini rasanya tetap menyisakan permintaan pada sisi lain yaitu appreasiasi pada hasil karya anak bangsa ini. Mudah2an disain dari multistoreys jembatan baru itu nanti dengan layout-nya masih bisa menyisakan ciri jembatan lama. Dalam reka bentuk jembatan baru ini tentu perlu melibatkan para arsitek dan ahli lansekap. Mudah-mudahan dalam memacu modernitas Jakarta kita tetap memilih alur yang tepat, etis, dan paling produktif bagi bangsa.

Tinggal Di Kanada?

9iR7876ie

Saya pernah dua setengah tahun (1990-1993) tinggal di  Kanada, yaitu di Provinsi Nova Scotia dan Provinsi New Brunswick.  Dibandingkan dengan AS dan Australia atau Belanda, Kanada memang rada konservatif.  Mungkin seperti Inggris “induknya” (meski belum pernah ke sana).

Penduduknya ramah dan santun.  Sering dikatakan oleh kawan-kawan dari Timur Tengah dan Malaysia, suasananya sangat Islami (hiks hiks… mereka bisa mereferensikan ke negara masing-masing).  Saat itu masih lazim orang bertegur sapa ketika berselisih jalan atau “hai…hai…” bila jumpa orang yang sama.  Bahkan, ketika ngantri atau nunggu bis orang bisa ngobrol dengan akrab, meskipun sebelumnya tidak kenal dan beda ras.

Orang Kanada sangat menghargai orangtua dan hak orang lain. Membukakan pintu bagi orang lain lazim, tidak hanya pada orangtua.  Kalau ada barang orang lain yang terjatuh, akan banyak yang menolong mengambilkannya.  Saya mendapat seorang ibu-ibu yang mau jadi sukarelawan sebagai proofreader untuk thesis saya.

Orang Kanada juga mudah percaya pada perkataan kita.  Asal tidak kelihatan aneh, mereka langsung percaya apa yang kita sebut sehingga proses pengisian formulir-formulir bisa cepat dan untuk hal-hal pelayanan biasa sering tidak perlu identitas.  Rental mobil misalnya, ketika itu cukup punya kartu kredit (now let’s do sharia, guys…) maka dengan cepat kunci mobil sudah di tangan kita, sekalipun itu sebuah sedan sport keluaran baru.

Dalam berlalu lintas orang Kanada juga sangat tertib dan jarang menggunakan klakson. Bila di perempatan kita tidak berhenti dan nyerobot antrian melintas maka akan diklakson orang lain beramai-ramai (hehehe… orang Indonesia sering kena!).  Tak heran bila banyak student dari Indonesia susah lulus ujian SIM di sana.

Rasa aman memang terasa, dan barang-barang di luar rumah atau yang ketinggalan sering jumpa kembali. Anak-anak sering meninggalkan begitu saja sepeda atau alat olahraganya di luar rumah tanpa diganggu siapa-siapa.  Bila di apartment kita heboh, dalam waktu singkat akan diketok polisi.  Apartment orang kita sering kena demikian karena yang pada diskusi serius atau bertengkar dikira sedang ada perkelahian.

Bagi mereka, perkelahian memang hanya sampai pertengkaran mulut.  Paling dorong-dorongan badan tanpa tangan ikut campur.  Yang kelahi fisik dianggap rendah karena sudah tidak mampu pakai pikiran atau otaknya.  Secara sosial ia akan jatuh karena dinilai berintelektual rendah.

Namun bukan berarti disana bagai di surga yang harmonis tanpa kejahatan. Kanada termasuk negara yang banyak terjadi perkosaan pada wanita (hehehe tentunya di luar kasus suka sama suka atau setengah suka karena mabuk!). Buat wanita, jam 22.00 ke atas tidak aman sendirian karena banyak orang yang mulai terpengaruh minuman keras.

Isteri saya berkali-kali ditawarkan oleh satpam untuk diantar pulang dari kampus ke rumah yang dekat saja, padahal baru beberapa menit lewat jam 22.00. Meskipun sudah tua, pensiunan polisi itu akan disiplin dan selalu mengontrol ruang-ruang belajar atau lab yang masih ada wanita bekerja.  Rumah-rumah juga banyak yang dipasang alarm atau sensor karena sering ditinggal lama.  Malam adalah saat mana banyak orang menenggak minuman beralkohol.

Masalah kriminalitas banyak muncul umumnya memang sebagai akibat alkohol. Sebenarnya mereka tahu bahwa alkohol hanya menolong menghangatkan tubuh secara semu di daerah dingin namun generasi muda sangat senang minuman beralkohol. Tiap Jumat sore mereka sudah teriak “Party…. Party…!

Sangat umum pada waktu sore atau maghribnya kita melihat anak-anak muda menenteng karton minuman beralkohol dengan gaya riang gembira. Kalau tidak di klub-klub mereka party di rumah-rumah yang tidak ada orangtuanya, di bagian yang terbuka seperti taman, teras, atau balkon. Party beberapa orang ini tentu diikuti dengan kehadiran yang wanita juga. Jika tetangga kita demikian maka siap-siap untuk tidur larut malam atau kaget mendengar polisi datang dinihari karena mereka membuat keributan atau berkelahi.  Hal yang biasa kalau “party is over” baru pada hari Senin dinihari dengan bergeletaknya mereka dengan segala posisi dan kemungkinan.

Keadaan ini bukan tidak mengkhawatirkan para orangtua mereka yang notabene rada konservatif tadi.  Saya pernah ngobrol di pesawat dengan seorang ibu yang punya dua orang anak usia mahasiswa dan suaminya profesor di sebuah universitas besar di Kanada.  Dia kawatir sekali dengan anak-anaknya yang tidak bisa mengikuti jejak ayahnya tapi hanya kuliah di universitas kecil.  Ia juga “cemburu” dengan prestasi dan upaya para mahasiswa Asia, baik yang warganegara ataupun pendatang.  Sementara anak-anak Kanada sejak Jumat sore mulai tenggelam dengan relax, fun, dan party, katanya, kalian sampai Ahad malam masih banyak yang di pustaka!

Akan tetapi secara umum Kanada memang sebuah negara yang jadi pilihan untuk tinggal.  Ia sebuah negara  modern yang jauh lebih tertib (penduduk tak boleh punya senjata!) dari AS tetangganya.  Negara di belahan Uatara bumi ini juga terkenal dengan kekayaan alam, hutan dan danau-danaunya, serta  komitmen dalam menjaga kelestarian alam.  Ini jadi salah satu kekuatan negara yang memunculkan experties dalam pemerintahannya dan bidang-bidang studi berkaitan yang diunggulkan di berbagai Univeristas di Kanada.

Jadi tak salah kalau Kanada terkenal sebagai salah satu negara maju dan yang nyaman untuk tinggal.  I missed Canada very much, but as a Malay I still choose our lovely Indonesia as my place to live.

(illustrasi: http://www.clipartbest.com)

Gaung: Salam

muslim-kid-salam-hand-drawn-vector-illustration-35473037 (illustrasi dreamstime.com)

Kita sudah familiar dengan kata salam yang maksudnya bisa kegiatan menyapa dengan suatu ucapan, saling menggenggam telapak tangan, atau suatu good wish atau doa untuk seseorang. Dengan perspektif religius yang sering dikutip oleh para penulis, salam bermakna menyampaikan pesan damai, rasa hormat, dan doa.  Jadi salam adalah penghargaan atau pemberian rasa hormat kepada orang yang disukai.

Meskipun dalam kehidupan “modern” sekarang penyampaian salam bergeser ke arah formalitas atau basa basi, namun yang menerima salam sepatutnya tetap memberikan pengharagaan balik kepada si pemberi salam.  Apabila orang menyampaikan ucapan Assalamualaikum kepada kita misalnya, maka semestinya kita jawab dengan ucapan yang sama.  Akan lebih utama lagi kalau kita balas dengan melebihkan menjadi Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.  Tambahan berikutnya adalah waridhwan.

Kata salam atau As-Salam adalah salah satu nama Allah yang berarti Yang Maha Pemberi Keselamatan.  Menyampaikan salam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, dinilai sebagai salah satu bentuk untuk menebarkan nama-nama Allah di muka bumi, bahkan yang menyampaikan salam kepada sekelompok orang dinilai satu derajat lebih tinggi.  Bila tidak dijawab maka akan dijawab oleh yang lebih baik dari mereka yakni para Malaikat.

Menyampaikan salam memang sunnah namun menjawabnya adalah wajib. Muatan sakral ini menyebabkan salam tidak dapat dianggap sebagai basa basi tapi memiliki etika dalam interaksinya.  Selain yang lebih dahulu menyampaikan salam adalah lebih baik, prinsip dasar lainnya adalah yang muda kepada yang lebih tua, yang menghormati kepada yang lebih dihormati.  Akan tetapi ketentuan usia dan penghormatan ini bisa dikalahkan oleh azas: yang sedikit kepada yang ramai, yang pergi kepada yang tinggal, yang lewat kepada yang di tempat, yang di atas kendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk.

Aturan salam yang lebih azasi adalah bahwa salam secara Islam hanya ditujukan untuk sesama Muslim.  Hal ini tentu suatu ketentuan yang given sehingga bukan untuk diperdebatkan tapi difahami dan dikerjakan saja. Kepada yang lain, seorang Muslim tetap boleh memberi salam namun bersifat umum seperti selamat pagi, semoga sukses, selamat jalan, dan sebagainya. Sementara bersalaman tangan yang diikat aturan mahram, banyak membawa berkah.

Bagaimana kalau yang akan diberi salam adalah sekelompok orang Islam yang bercampur dengan yang bukan? Salam tetap dapat dilakukan dengan niat untuk mereka yang Muslim sedang bagi yang lainnya dapat disapa dengan salam yang umum di atas.  Sebaliknya kalau ada seorang Non-Muslim menyampaikan Assalamualaikum maka orang Islam yang mendengarnya boleh menjawabnya dengan Waalikum yang artinya dan kamu juga.

Jadi tetap ada saling menghargai dan mendoakan meskipun cara dan kepercayaan berbeda.  Dengan pemahaman yang jernih, mudah-mudahan mudah terbangun saling pengertian yang kokoh dan saling menghormati dalam masyarakat kita.