Feeds:
Posts
Comments

Kriteria kualitatip yang sudah kita bahas cukup lengkap dan mewakili prinsip-prinsip dasar sehingga dapat kita jadikan sebagai acuan.  Kriteria itu kita kelompokkan jadi KETAULADANAN DASAR, KEIKHLASAN, SAYANG PADA RAKYAT DAN NEGERI, dan TAKUT PADA ALLAH.  Untuk memudahkan, kita coba buat penilaian secara kuantitatif dalam bentuk satu scoring table sebagaimana tampilan berikut.

 SCORING TABLE blank11SCORING TABLE blank12

Cara penilaian yang akan kita coba ini hanya semacam alat bantu sederhana saja dengan asumsi dan justifikasi yang dapat diambil sendiri berdasarkan pengalaman masing-masing.  Subjektivitas memang tak terhindarkan ini karena demikianlah sifat penilaian, akan tetapi kita sedang berusaha melakukan cara yang lebih baik dan meningkatkan objektivitas dari pada cara kualitatif saja.  Kita juga dapat mengurangi subjektivitas itu dengan membandingkan pendapat kita dengan orang lain.

Kedua aspek ini tentu berdasarkan pengalaman, wawasan, dan informasi pribadi atau bisa juga secara kolektif.  Asumsi itu antara lain menyangkut pembobotan terhadap suatu karakter atau tolok ukur, dengan pilihan lain kita beri bobot sama semuanya.  Sebagai contoh, kelompok kriteria KETAULADANAN DASAR kita beri bobot kolektif sebesar 20 persen maka bobot itu kita masukkan ke kolom Bobot pada baris Nilai Kriteria 1. Demikan pula bobot dari masing-masing tolok ukur sesuai asumsi kita dapat kita masukkan ke kolom yang sama sehingga semua bobot ini akan jadi faktor pengali terhadap Nilai Murni untuk mendapatkan Nilai Tertimbang.

Justifikasi kita lakukan terhadap nilai tolok ukur yang akan diberikan terhadap seseorang calon yang dinilai.  Rentang nilai itu juga dapat kita pilih sendiri; misalnya 0 untuk yang terendah dan 100 untuk yang tertinggi atau sempurna.  Mengingat para calon yang kita nilai adalah orang-orang yang telah lolos seleksi administrasi, kesehatan fisik dan mental, dan putra-putra terbaik yang mengajukan diri, maka nilai ini bisa juga kita buat dalam rentang yang lebih realistis yaitu antara 70 sampai 90.

Scoring Tabel berikut adalah contoh yang sudah kita isi untuk menilai 5 orang calon, misalnya calon anggota legislatif atau atau calon senator yang akan kita nilai.  Pembobotan dan penilaian dilakukan dengan asusmsi dan justifikasi yang diperlukan untuk pemahaman cara ini, tanpa menyangkut siapa-siapa pihak.  Untuk membuktikan kebenaran perhitungan score di tabel ini, calon ke lima Kandidat E kita beri nilai 80 yang rata untuk semua kriteria/tolok ukur sehingga dia akan mendapat nilai akhir tetap 80.  Selamat mengutak-ngatik angka, semoga ini bisa membantu dan memudahkan anda menentukan seorang calon terbaik yang akan dipilih.

SCORING TABLE11.PNG

SCORING TABLE12

Advertisements

Karakter takut pada Allah ini bisa berangkat dari manusia sebagai makhluk.  Tidak ada pilihan bagi manusia selain mengabdi pada Allah, sebagaimana dalam Al-Quran Surat Adz-Dzariyat ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Maksud dari mengabdi ini selain beribadah tentu mentaati segala perintah Yang Maha Pencipta dan meninggalkan segala larangan-Nya.  Mentaati Allah berimplikasi mentaati Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam (QS An-Nisa:80).  Tolok ukur yang dapat kita gunakan untuk menilai seorang hamba Allah adalah kebaikan dan kemuliaan.

Berkaitan dengan kebaikan seorang manusia, Rasulullah menyebutkan berbagai kriteria tentang yang sebaik-baiknya seorang Muslim.  Sebagaimana yang dapat dikutip dari http://www.kajianislamiyah.com/siapakah-sebaik-baik-manusia/ untuk topik ini dapat dikemukakan diantara kriteria sebaik-baiknya manusia antara lain: yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya (HR. Bukhari 5027), yang baik akhlaknya (HR. Bukhari 6035), yang paling baik dalam membayar (mengembalikan hutang) (HR. Bukhari 2305), yang paling boleh diharapkan kebaikannya dan aman dari keburukannya (HR. Tirmidzi 2263), yang paling baik terhadap ahli keluarganya (HR. Ibnu Hibban 4177), yang memberi makan (kepada orang lain) dan menjawab salam (Shahih Al Jami’ 3318), yang paling baik dalam meluaskan tempat (bagi orang masuk dalam saf) dalam solat (Targhib wa Tarhib 1/234), yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya (Shahih al Jami’ 3297), yang paling bermanfaat bagi orang lain (Shahih al Jami’ 3289), dan yang memiliki hati yang makhmum dan lisan yang jujur yaitu hati bersih dan bertakwa, tidak ada dosa, tidak berbuat zalim, serta tidak ada kebencian dan hasad (Shahih al Jami’ 3201).

Kriteria tersebut menggambarkan sikap dan kepribadian (adab) seseorang dalam beriteraksi dengan orang lain.  Dalam konteks kepemimpinan, hal ini sangat relevan dengan keberpihakan dan rasa sayang pada rakyat sebagaimana telah dibahas pada seri tulisan sebelum ini.  Sedangkan dari sisi kemuliaan maka akan berkaitan dengan ketaqwaan.

Taqwa secara bahasa kita kenal sebagai memelihara diri dari siksaan Allah, yaitu dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (http://www.risalahislam.com/2014/06/Pengertian-Takwa-Menurut-Bahasa-Istilah.html).   Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibn Abbas mendefinisikan takwa sebagai “takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya”.  Karena itu manusia yang paling mulia bukanlah karena rupa, harta, dan warna kulit tetapi yang paling bertaqwa sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Hujurat:13.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.”

Dalam Al-Quran banyak disebutkan tanda-tanda orang bertaqwa atau yang secara praktis sering disebut sebagai takut pada Allah ini.  Tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah: 2-5, seorang yang bertaqwa atau takut kepada Allah akan beriman kepada yang ghoib, mendirikan sholat, menginfaqkan sebagian rizki yg dianugerahkan kepada mereka, beriman kepada Al-Quran yg telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Kitab-kitab sebelumnya, dan meyakini hari akhirat.

Selanjutnya dalam Surat Ali Imran: 16-17, tanda-tanda seseorang yang takut pada Allah adalah suka berdoa minta ampunan dosanya dan dilindungi dari azab api neraka, sabra, benar keyakinan, ucapan, dan perbuatannya, taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, memohon ampunan Allah di waktu sahur.

Ia mampu menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang lain, apabila telah mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah serta memohon ampunan Allah atas dosa-dosa mereka dan tidak meneruskan perbuatan kejinya itu (Surat Ali-Imran: 134-135).  Apabila ia dibayang-bayangi pikiran jahat dari syetan, mereka segera mengingat Allah dan menyadari kesalahan-kesalahannya (Surat Al-’Araf: 201).

Seorang calon pemimpin yang kita nilai bertaqwa atau takut kepada Allah tentu yang paling tinggi tingkat kebaikan dan kemuliaannya mengikuti apa yang telah diungkapkan Al-Quran dan Hadits tersebut.  Makin takut ia pada Allah maka makin kuat ia memegang apa yang telah digariskan.

Seorang yang takut pada Allah adalah orang yang sholih secara pibadi atau sosial, bukan mendadak tapi sejak lama jadi pilihan cara hidupnya.  Ia rajin ke masjid dan sholat tepat waktu, suka berinfaq, puasa, membaca Al-Quran, mengikuti majelis ilmu, berbakti pada orangtua, berakhlak mulia, dan banyak mengerjakan amalan sunnah lainnya.  Sebagai makhluk sosial ia punya ghirah atau semangat untuk imannya, peduli pada agama dan ummat, mempunyai pola hidup yang sehat seperti tidak suka rokok, minuman keras, kehidupan malam, apatah lagi narkoba.  Bahkan ia sangat memperhatikan bahan dan sumber nafkah yang diberikan pada keluarganya.

Karena ia selalu ingat pada Allah dan merasa diawasi-Nya maka ia anti-raswah (suap, sogok menyogok), anti-money politics, dan tidak punya track record berlaku curang atau memanipulasi data dan informasi untuk kepentingan diri atau kelompoknya.  Ia tidak mau bekerjasama, berkawan, atau memanfaatkan para pihak yang tidak baik secara etika moral, hukum, atau benci pada Islam.  Ia juga dapat dikesani sebagai orang yang tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Semua ini tentu sangat ideal, keadaan yang tentu kita idamkan sedekat mungkin yang dapat kita wujudkan.  Sebab, orang yang tidak takut pada Allah, dengan kekuasaan pada tangannya maka ia akan jadi pemimpin yang mengerikan dan jahat yang pasti merugikan kita sebagai rakyat yang menginginkan seorang pemimpin yang amanah, adil, bijaksana, cerdas, berwawasan luas, dan secara produktif dan positif berorientasi pada kemaslahatan orang ramai.

Sepatutnya bila ada calon yang tidak sesuai, ia sendirilah yang tahu diri untuk tidak mengajukan diri karena ia tidak akan mendapat bantuan Allah dalam jabatannya kelak.  Akan tetapi tidak terelakkan bahwa kita berada pada tempat dan zaman yang ada seperti kita jumpai hari ini.  Dengan usaha kita memilih secara cermat dan juga ikhlas, semoga Allah memberikan kita pasangan pemimpin yang ikhlas, sayang pada rakyat dan negeri, serta takut pada Allah.  Amin Ya Rabbal Alamin.

 kurma berbuah di al-falah
Pohon kurma yang ditanam di halam Masjid Al-Falah Jl. Sumatera Pekanbaru bisa berbuah.
Kurma adalah tanaman jenis Palma yang sesuai tumbuh di daerah tropis sampai subtropis. Tanaman ini berbiak dengan biji atau anaknya yang tumbuh di pangkal pohon induk. Buahnya berbiji tunggal dalam tandan-tandan yang keluar dari sela2 pelepah pohon yang betina setelah berusia 3,5-5 tahun setelah dilakukan penyerbukan (secara manual) dengan tepung sari pohon jantan.
Rasa buah yang mengkal manis-kelat, yang matang atau dikeringkan manis serta kaya akan nutrisi dan energi. Selain sebagai makanan yang berkah utk daerah kering, buahnya yang mengkal disebutkan juga berkhasiat untuk kesehatan dan kebugaran. Kurma adalah satu rahmat Allah untuk ummat dan disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran.
Kebun kurma banyak ditemukan di Timur Tengah, Afrika bagian Utara, Iran, dan Amerika tropis/subtropis. Pada akhir-akhir ini tanaman kurma mulai dikembangbiakkan di kawasan Asia lainnya seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia karena prospek ekonominya yg baik dan bisa dikondisikan secara vegetatif agar produktif. Bibitnya bisa diturunkan dari biji, anakan, atau hasil kultur jaringan yang punya tingkat kepastian jantan/betinanya berbeda.
Di Thailand kurma sudah berhasil dikembangkan, khususnya di Chiang Mai oleh Dr. Kolak, seorang peneliti yang telah melakukan percobaan dan berkebun kurma bertahun-tahun. Dari induk asal Palestina, Jordan, dan Iran, Dr. Kolak sudah menghasilkan kurma varian lokal  KL1 dan hampir selesai dengan KL2.  Satu batang pohon KL1 bisa menghasilkan sampai 320 kg per pohon per tahun yg bila dibandingkan secara ekonomi sama dengan hasil 1 hektar kebun kelapa sawit; cocok untuk tanaman di sekitar rumah bila kondisi tanahnya sesuai.  Daya serap pasar tinggi sehingga hasil kebun Dr Kolak tidak sempat sampai ke jalur ekspor.
Sesuai penjelasan Dr. Kolak ketika diundang ke Pekanbaru oleh Tafaqquh Study Club pimpinan Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA, kurma asal Chiang Mai bisa dikembangkan di Indonesia, khususnya dataran tinggi Provinsi Riau. Berdasarkan pengalaman di Chiang Mai, kurma sesuai ditanam di tanah berpasir, pH sekitar 7, muka air tanah berada 3,5 M di bawah permukaan (tanah kering). Cara pemeliharaan dan penumpukan tidak jauh berbeda dengan kelapa sawit.
Di Malaysia juga kabarnya sudah ada beberapa hektar kebun kurma namun informasinya masih terbatas. Di Indonesia sdh dikebunkan di daerah Jonggol oleh Bapak Muhaimin Iskandar, di Pasuruan, dan sekarang sedang dilakukan di Aceh oleh Bapak Mahdi Muhammad.  Secara terbatas juga sudah dicoba di Riau.
Satu hal penting dari budidaya kurma adalah bibit. Selama ini banyak masyarakat menanam kurma secara terbatas dari bijinya; sangat jarang yang berbuah karena kemungkinan besar pohonnya jantan atau tidak dilakukan penyerbukan. Bibit dari anakan yang dipisahkan juga bisa berbuah bila induknya juga betina. Tingkat kepastian yang paling tinggi jenisnya adalah dari hasil kultur jaringan (tissue culture).
Sejauh ini yang sudah memproduksi dan memasarkan bibit hasil kultur jaringan adalah satu perusahaan di Inggris. Kebun Jonggol dan Aceh banyak menggunakan bibit dari Inggris ini. IPB juga sedang berusaha mengembangkan bibit melalui teknik kultur jaringan ini. Tidak heran bila harga bibit kurma masih mahal karena perlu ada garansi jenis jantan/betinanya dan akibat biaya impor.
Akan tetapi tanaman ini sangat prospektif dari sisi nilai ekonomi, nilai strategis, dan cara pemeliharaannya yang relatif dikenal. Buahnya sangat handal sebagai makanan karena proses pasca panen yg mudah, kaya nutrisi, tahan lama disimpan, dan praktis untuk dibawa bepergian. Sebagaimana yang disebut dalam Al-Quran dan dianjurkan Rasulullah, mari kita mulai menanam kurma, meskipun beberapa batang di lahan yang sesuai di sekitar atau halaman rumah.

Termaktub dalam Al-Quran perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala  kepada Rasulullah yang refleksinya tentu sampai ke para pemimpin hari ini:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Surat Asy-Syu’ara ayat 215)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah diperintahkan untuk berlaku adil dan berbuat baik kepada pengikutnya dan secara bersamaan berlepas diri pada yang durhaka padanya (QS. An-Nahl: 90).  Jika mereka menimpakan siksaan maka Allah membenarkan Rasulullah bila membalas hal yang sama,   namun lebih baik jika bersabar dan memaafkan mereka (QS. An-Nahl: 90 dan QS. Asy-Syuraa: 40).  Selain itu masih banyak hadits yang memerintahkan agar pemangku pemerintahan berlaku lemah lembut pada rakyat, tidak berlaku zalim, dan memenuhi hajat mereka.

Ulama Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka akan aku tujukan doa tersebut kepada pemimpin.”  Maksudnya jika doa itu ia tujukan pada dirinya, hanya bermanfaat untuknya.  Jika ia tujukan untuk pemimpin, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.

Imam al-Mawardi (w. 450 H), seorang ulama besar Madzhab as-Syafi’i, dalam bukunya al-Ahkâm as-Sulthôniyyah menyebutkan bahwa salah satu kewajiban pemimpin adalah menjaga dan melindungi perbatasan sehingga musuh tidak menguasai tanah perbatasan dan menganggu penduduknya.  Implikasi dari kewajiban ini maka seorang pemimpin mesti mengenal wilayahnya, mengetahui keadaan rakyatnya, dan memahami apa yang harus dilakukannya.

Sikap seorang pemimpin terhadap rakyat dan negeri ini sangat penting karena akan berkaitan dengan segala kebijakan dan tindakan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.  Kita bisa memperhatikan gejala yang berkenaan yang muncul di permukaaan peri-kehidupannya, apalagi bila pernah berinteraksi dengan atau mengamati kiprahnya.

Selain faham keadaan serta kebutuhan rakyat dan negeri, ia akan bersikap arif dan bijaksana secara proporsional serta mengayomi semua pihak sedemikian agar bisa berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.  Pemimpin demikian akan bekerja produktif, jauh dari hiruk pikuk mencari pujian tapi justru tanpa diminta prestasi dan reputasinya mendapat appresiasi dari orang lain.  Dengan penuh disiplin dan kerja keras untuk rakyat ia akan merumuskan rencana-rencana yang inovatif, realistis, dan implementatif.  Rasa sayangnya pada rakyat dan negeri membuat ia juga terbuka pada kritik.

Memang betul bahwa tidak mudah melihat figur yang bersifat demikian, namun kewajiban kita pula untuk mencermati yang sedekat mungkin ke sifat-sifat yang positif ini.  Kita tidak boleh putus harapan karena tentang hal ini Rasulullah menyuruh kita berdoa:

Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.

(HR. Al-Tirmidzi dalam Sunannya no. 3502 dan juga dari perawi lain)

Ikhlas adalah salah satu kata kunci yang sangat penting dalam amal perbuatan seorang Hamba Allah, termasuk menjadi pemimin formal.  Pengertian ikhlash adalah membersihkan perbuatan dari mencari pandangan manusia atau hal lainnya (riya) dan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan.  Ikhlas dimulai sejak dari niatnya.

Niat yang ikhlas dari semua amal perbuatan manusia tidak boleh keluar dari kerangka mengabdi kepada Allah, sebagaimana yang firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”

Ketika seseorang merasa mampu dan maju jadi pemimpin formal pasti ada niatnya.  Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan, tidaklah mudah menerapkan konsep ikhlas ini;   mungkin karena merasa mendapat panggilan nurani melihat keadaan yang ada, ingin mengabdikan dirinya untuk negeri dan masyarakat, sebagai aktualisasi diri, meningkatkan taraf dan fasilitas hidup, atau bahkan melihat ada peluang yang menguntungkan diri atau kelompok.  Apapun niat yang dikatakan, mestilah teruji dan masuk ke dalam kerangka semata karena Allah  Ta’ala.

Tentu kita tidak dapat mengetahui isi hati seseorang.  Akan tetapi kita masih bisa mencermati gejala keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya.  Dalam konteks kepemiminan formal, mungkin bisa kita lihat beberapa indikator yang berkaitan.

Dalam kesehariannya selama ini mungkin kita bisa merasakan apakah seorang calon itu suka riya, pamrih, memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan sempit yang mengakar (vested interest), atau mencari pujian atau tidak.  Mungkin kita juga bisa melihat orang yang ambisius, rakus pada kekuasaan, otoriter, dan angkuh atau yang sadar pada kapasitas, kompetensi,  kapabilitas dirinya sehingga  menjadikan tugas yang diembannya sebagai pengabdian dan ibadah kepada Allah.  Dengan demikian  ia akan berusaha atau bekerja dengan sungguh-sungguh, bertanggung-jawab, menghargai orang lain, tuntas, dan akuntabel.

Secara pesimistis bisa jadi kita anggap tidak ada orang yang demikian akan tetapi kita mesti yakin bahwa disamping kelemahan seorang manusia juga punya hati nurani yang lurus. Paling tidak, In sya Allah kita bisa melihat yang paling baik dari yang ada.  Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kebenaran kepada kita semua dan memberi kita pemimpin yang ikhlas.

poster pilkada

Kita semua tentu sepakat bahwa semua pasangan calon adalah figur-figur terbaik yang memungkinkan jadi pemimpin di daerah kita.  Secara legal formal mereka sudah memenuhi syarat administrasi, kesehatan fisik dan mental, dan ada pendukungnya.  Bagaimana cara kita menilai bahwa seseorang itu memang patut jadi pemimpin formal dalam perioda lima tahun ke depan?

Seorang pemimpin kita harapkan adalah yang terbaik yang dapat kita lihat dan rasakan, paling tidak secara lahiriah.  Dalam konteks kepemimpinan, tolok ukur terbaik untuk menilainya tentu mengacu kepada seorang pribadi yang berkepribadian terbaik berdasarkan nilai-nilai yang kita yakini terbaik pula.  Tidaklah bila kita menjadikan Nabi Muhammad SAW yang merupakan tauladan terbaik sebagai acuan.  Michael H. Hart, seorang guru besar di Maryland, Amerika Serikat, tahun 1978 telah menempatkan Baginda Rasulullah pada ranking 1 dari 100 figur yang yang paling berpengaruh di muka bumi.

Sudah kita ketahui bersama bahwa empat karakter beliau yang sering disebut untuk jadi tauladan kita adalah Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh.  Shiddiq artinya benar; baginda selalu benar dalam perkataan dan perbuatannya, beliau tidak pernah berlaku lain di mulut lain di hati atau berbohong pada orang yang beliau jumpai.  Allah menjamin bahwa ucapan beliau senantiasa berdasarkan wahyu sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran  Surat An-Najm Ayat 4-5:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.”

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”

 

Amanah artinya bisa dipercaya.  Sejak dari belia, apabila diserahkan suatu hal atau tugas, beliau benar-benar dapat dipercaya dan melaksanakan kepercayaan itu dengan baik.  Karena kejujurannya itu jauh sebelum kenabiannya beliau diberi gelar oleh penduduk Makkah sebagai Al-Amin yang artinya terpercaya.

Setelah menjadi Nabi, beliau makin menunjukkan karakter itu dan mustahil berkhianat pada yang memberi amanah.  Hal ini dinyatakan dalam Al-Quran Surat Al-A’raaf 68:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَاْ لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.”

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau menolak bujukan kaum kafir Quraisy agar meninggalkan da’wah tauhid, andaipun diberikan matahari di tangan kanan beliau dan rembulan di tangan kiri.  Bahkan dengan ancaman nyawa pun Rasulullah tetap menjalankan tugas sucinya menyampaikan kebenaran.

Fathonah artinya cerdas.  Adalah mustahil Rasulullah itu tidak cerdas atau jahlun.  Beliau sudah terbukti sanggup menerima, mengingat, dan menyampaikan wahyu berupa Al-Quran sebanyak 30 juz atau 6.236 ayat.  Dengan kecerdasannya, beliau juga mampu menyampaikan penjelasan ajaran-ajaran Allah dalam puluhan ribu hadits dan berdebat dengan baik sehingga banyak yang menerima ajaran Islam.  Kecerdasan dan kepemimpinan yang dikarunikan Allah pada beliau telah memudahkan Agama Islam menyebar ke segala penjuru yang akhirnya dalam waktu kurang dari 100 tahun sudah melebihi luas benua Eropa.

Tabligh artinya menyampaikan.  Rasulullah menyampaikan semua wahyu yang ditujukan pada manusia, meskipun itu menyangkut pribadi beliau.  Sebagai satu contoh adalah kisah Ibnu Ummi Maktum yang buta waktu menghadap Rasulullah yang sedang menerima para pembesar kafir Quraisy.  Karena Rasulullah kurang merespon Ibnu Ummi Maktum maka Allah langsung menegur baginda melalui wahyu Surat ‘Abasa.  Meskipun demikian, Rasulullah tetap menyampaikan surat itu kepada para pengikutnya.

Mengacu pada karakter tauladan terbaik ini tentu tidak mungkin kita dapat menemukan seorang calon yang menyamai. Sebagaimana kewajiban yang sama berlaku atas kita, yang dapat kita lakukan hanyalah menyimak secara lahiriyah figur calon mana yang karakternya paling dekat atau berusaha meniru karakter Rasulullah itu.  Sekarang anda sendiri dapat melakukan assesment itu.

Harapan kita tentu kita dapat menemukan seorang calon pemimpin kita yang senantiasa berkata benar, tidak suka berbohong, tidak suka mengumbar janji kosong, tidak lain di mulut lain di hati, sesuai kata dan perbuatan, tidak mau memalsukan informasi dan data, dan tidak menggelembungkan diri sendiri.  Pemimpin yang kita inginkan itu hendaklah seorang yang bertanggung-jawab, tidak mengkhianati ummat dalam peri kehidupannya selama ini, tidak pernah melakukan atau menyerempet pelangggaran hukum, tidak pernah terlibat korupsi, dan mendapatkan hak atau rizkinya secara syah dan baik.

Pemimpin yang berpeluang besar berhasil dalam tugasnya tentulah yang cerdas dan berwawasan luas.  Ia berfikir bernas, tepat, dan dapat mensinergikan berbagai potensi ilmu dan pengalaman orang lain.  Ia seorang yang mau belajar dan penuh inisatif sehingga dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.  Kepada jajaran dan stakeholders, seorang pemimpin yang kita harapkan dapat berkomunikasi dengan baik, memberikan arahan dan petunjuk yang jelas dan proporsional, dan membangun jejaring kerja dengan baik. Bisa juga kita cermati siapa kawan atau kelompoknya.

Nah, kira-kira demikianlah elaborasi dari karakter yang dapat kita tauladani dari Rasulullah SAW.  Mudah-mudahan kita dapat melihat yang paling mendekati; apabila ada yang lebih baik dari elaborasi ini secara parsial tentu akan lebih bermanfaat, sebagai kesaksian yang akan kita pertanggungjawabkan pada Allah SWT di akhirat kelak.  Semoga anda sudah mendapatkan minimal satu atau dua nama calon pemimpin berkarakter yang lolos asessment anda tahap pertama ini.

Perjalanan dengan perahu motor selama 5 jam (sumber foto: UAS, Bismar, Feizal)

 

Setelah sekitar lima jam mengharungi Batang Gansal ke hulu menggunakan perahu motor, termasuk singgah di “rest area”, kami sampai di Dusun Air Bomban sebagai tujuan pertama.  Di dusun ini ada 23 unit rumah dengan penduduk yang umumnya hidup dari hasil hutan dan kebun karet atau berladang di sekitar sungai.

Perahu merapat di tepian rakit bambu yang sekaligus sebagai jamban.  Para peserta rihlah mengangkat barang bawaannya masing-masing mendaki tebing sungai menuju ke sebuah sebuah masjid sederhana dan tua.  Setelah sholat, waktu bebas bagi para peserta digunakan untuk berbagai kegiatan.  Para “panitia” langsung sibuk melakukan persiapan-persiapan yang perlu untuk malam dan keesokan harinya.  Para peserta ada yang longok sana sini, ada yang duduk-duduk dan bercengkrama dengan warga dusun, ada yang langsung mandi ke sungai, atau langsung menggeletak dalam masjid.

Masjid ini jadi “markas” sekali gus penginapan peserta rihlah, sebagaimana kesepakatan “advance team” dengan masyarakat, khususnya Pak Yahya sebagai imam masjid dan guru agama di dusun itu.  Karena masjid yang baru sedang dikerjakan maka peserta berbagi tempat dengan bahan bangunan di dalam masjid itu.  Namun keadaan yang ada nampaknya tidak mengurangi nikmat istirahat dan tidur yang diberikan Allah Swt.

Sementara itu, Ustadz Abdul Somad (UAS) termasuk yang paling dulu siap untuk menyambut maghrib tanpa kelihatan lelah.  Menyimak apa yang beliau lakukan dalam perjalanan, memang ada kiat yang beliau amalkan.  Pertama, nampaknya UAS makan sedikit sehingga gerakannya ringan (sementara kita, mungkin sedikit-sedikit makan).  Kedua, pembawaan beliau simpel dan mudah memahami berbagai keadaan yang dihadapi sehingga tidak menyulitkan diri menghadapi keadaan yang sulit.  Ketiga, beliau mengatur waktunya sangat efektif ketika di kendaraan, baik mobil maupun perahu motor.

Bagaikan punya kenop, ketika kendaraan sudah jalan maka beliau langsung memejamkan matanya dan kembali terbangun ketika sampai.  Hanya sesekali beliau bangun untuk mencermati keadaan lingkungan atau makan sesuatu.  Dalam perjalanan ke Air Bomban ini, tak dinyana UAS jadi “pramugara” dadakan dalam perahu yang kami tumpangi; beliau dua kali mengedarkan makanan yang beliau bawa.

Selepas sholat jamak dan makan malam bersama yang nikmat di rumah Pak Yahya, tim  menayangkan tontonan untuk masyarakat menggunakan laptop, proyektor, dan sound system warga dekat masjid.  Sudah disiapkan beberapa bahan tayangan yang dinilai baik dan bagus untuk saudara-saudara kita di Air Bomban namun sayang sekali ada gangguan teknis berupa tidak sinkronnya peralatan yang dipakai.  Sementara warga dusun dengan antusias menikmati tontonan, sebagian besar peserta sudah rebahan dalam masjid dengan penerangan listrik seadanya sambungan dari genset penduduk.  Lalu menjelang subuh dilanjutkan dengan sebuah lampu emergensi sampai subuh.

Ketika subuh para peserta dengan senter masing-masing turun ke tepian untuk bersuci sambil menyenter kesana kemari.  Sholat subuh berjama’ah di masjid terasa lebih khusyuk di tengah ketenangan alam kawasan hutan perawan itu dan kebersamaan antarpeserta dan juga dengan beberapa penduduk yang ikut berjama’ah.  Seesai sholat, sekali lagi jama’ah beruntung bisa mendengarkan tausiah singkat UAS di keheningan subuh itu.  Semoga dengan pelaksanaan sholat subuh berjamaah dan majelis ilmu yang menyenangkan pada subuh itu, Allah memperkuat iman para peserta dan saudara-saudara kita di Air Bomban serta mendatangkan hidayah pada mereka yang masih belum mengambil “langkah baru”.

Rihlah da’wah ke Suku Talang Mamak ini memang harus dimulai dengan niat yang lurus, lalu dilengkapi dengan kemauan, komitmen, daya juang, dan ketegaran yang lebih dibanding jika “berjuang” di kota.  Selain harus mengurus hampir semua keperluan diri sendiri, peserta juga harus bisa membawakan diri agar “nyambung” dengan masyarakat setempat.  Kebiasaan dan perilaku mestilah disesuaikan juga sehingga bukan kita yang jadi orang aneh di tengah kampung.  Alhamdulillah, semua itu sebenarnya tidak sulit karena adat dan tradisi Suku Talang Mamak sangat dekat dengan orang Melayu yang sudah kita kenal.  Ketegaran diri juga In sya Allah dapat kita jaga bila melihat bagaimana anak-anak disana bisa survive dalam keseharian mereka.

Tekad dan komitmen ini diuji ketika pagi harinya kami ikut berjalan kaki bersama anak-anak SD ke sekolah mereka di Dusun Sadan.  Perjalanan menempuh jalan setapak dalam kebun karet atau hutan-belukar dengan naik turun bukit tiga kali.  Kami juga harus mengharungi sungai satu kali untuk menyeberang dan sepanjang jalan terbuka kemungkinan kaki masing-masing ditempeli pacat.  Anak-anak itu senang-senang saja, apalagi ditemani oleh banyak orang dan UAS yang mereka sudah akrab, padahal yang menemani umumnya sudah ngos-ngosan berjalan naik turun sekitar 40 menit itu.

 

Mungkin keramahtamahan dan kebersamaan sejak awal itulah yang telah meruntuhkan tembok psikologis antara peserta rihlah dengan masyarakat Talang Mamak, khususnya anak-anak.  Mereka tidak canggung untuk duduk berdempet-dempet dan bergelayut ketika berjalan dengan para mahasiswa UIN penggiat da’wah dan dengan UAS.  Muka-muka yang lugu, cahaya mata yang jernih, dan senyuman yang cerah sangat mudah didapatkan pada masing-masing masyarakat dan anak-anak tempatan.

Ketersambungan ini dan akhlak yang baik nampaknya sudah jadi pintu masuk para penda’wah terdahulu.  Kita rasanya juga bagaikan sedang pulang ke kampung sendiri sehingga ketika melihat berbagai hal dan masalah yang harus diperbaiki maka secara sendirinya akan muncul hasrat untuk berbuat apa yang mungkin kita lakukan.  Mudah-mudahan kepekaan melalui rihlah ini sebagai recharging iman dalam hati, sebagaimana kata UAS, dan dengan segala nikmat yang telah didapat dalam kehidupan bisa mendorong diri untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.