Feeds:
Posts
Comments

Tinggal Di Kanada?

9iR7876ie

Saya pernah dua setengah tahun (1990-1993) tinggal di  Kanada, yaitu di Provinsi Nova Scotia dan Provinsi New Brunswick.  Dibandingkan dengan AS dan Australia atau Belanda, Kanada memang rada konservatif.  Mungkin seperti Inggris “induknya” (meski belum pernah ke sana).

Penduduknya ramah dan santun.  Sering dikatakan oleh kawan-kawan dari Timur Tengah dan Malaysia, suasananya sangat Islami (hiks hiks… mereka bisa mereferensikan ke negara masing-masing).  Saat itu masih lazim orang bertegur sapa ketika berselisih jalan atau “hai…hai…” bila jumpa orang yang sama.  Bahkan, ketika ngantri atau nunggu bis orang bisa ngobrol dengan akrab, meskipun sebelumnya tidak kenal dan beda ras.

Orang Kanada sangat menghargai orangtua dan hak orang lain. Membukakan pintu bagi orang lain lazim, tidak hanya pada orangtua.  Kalau ada barang orang lain yang terjatuh, akan banyak yang menolong mengambilkannya.  Saya mendapat seorang ibu-ibu yang mau jadi sukarelawan sebagai proofreader untuk thesis saya.

Orang Kanada juga mudah percaya pada perkataan kita.  Asal tidak kelihatan aneh, mereka langsung percaya apa yang kita sebut sehingga proses pengisian formulir-formulir bisa cepat dan untuk hal-hal pelayanan biasa sering tidak perlu identitas.  Rental mobil misalnya, ketika itu cukup punya kartu kredit (now let’s do sharia, guys…) maka dengan cepat kunci mobil sudah di tangan kita, sekalipun itu sebuah sedan sport keluaran baru.

Dalam berlalu lintas orang Kanada juga sangat tertib dan jarang menggunakan klakson. Bila di perempatan kita tidak berhenti dan nyerobot antrian melintas maka akan diklakson orang lain beramai-ramai (hehehe… orang Indonesia sering kena!).  Tak heran bila banyak student dari Indonesia susah lulus ujian SIM di sana.

Rasa aman memang terasa, dan barang-barang di luar rumah atau yang ketinggalan sering jumpa kembali. Anak-anak sering meninggalkan begitu saja sepeda atau alat olahraganya di luar rumah tanpa diganggu siapa-siapa.  Bila di apartment kita heboh, dalam waktu singkat akan diketok polisi.  Apartment orang kita sering kena demikian karena yang pada diskusi serius atau bertengkar dikira sedang ada perkelahian.

Bagi mereka, perkelahian memang hanya sampai pertengkaran mulut.  Paling dorong-dorongan badan tanpa tangan ikut campur.  Yang kelahi fisik dianggap rendah karena sudah tidak mampu pakai pikiran atau otaknya.  Secara sosial ia akan jatuh karena dinilai berintelektual rendah.

Namun bukan berarti disana bagai di surga yang harmonis tanpa kejahatan. Kanada termasuk negara yang banyak terjadi perkosaan pada wanita (hehehe tentunya di luar kasus suka sama suka atau setengah suka karena mabuk!). Buat wanita, jam 22.00 ke atas tidak aman sendirian karena banyak orang yang mulai terpengaruh minuman keras.

Isteri saya berkali-kali ditawarkan oleh satpam untuk diantar pulang dari kampus ke rumah yang dekat saja, padahal baru beberapa menit lewat jam 22.00. Meskipun sudah tua, pensiunan polisi itu akan disiplin dan selalu mengontrol ruang-ruang belajar atau lab yang masih ada wanita bekerja.  Rumah-rumah juga banyak yang dipasang alarm atau sensor karena sering ditinggal lama.  Malam adalah saat mana banyak orang menenggak minuman beralkohol.

Masalah kriminalitas banyak muncul umumnya memang sebagai akibat alkohol. Sebenarnya mereka tahu bahwa alkohol hanya menolong menghangatkan tubuh secara semu di daerah dingin namun generasi muda sangat senang minuman beralkohol. Tiap Jumat sore mereka sudah teriak “Party…. Party…!

Sangat umum pada waktu sore atau maghribnya kita melihat anak-anak muda menenteng karton minuman beralkohol dengan gaya riang gembira. Kalau tidak di klub-klub mereka party di rumah-rumah yang tidak ada orangtuanya, di bagian yang terbuka seperti taman, teras, atau balkon. Party beberapa orang ini tentu diikuti dengan kehadiran yang wanita juga. Jika tetangga kita demikian maka siap-siap untuk tidur larut malam atau kaget mendengar polisi datang dinihari karena mereka membuat keributan atau berkelahi.  Hal yang biasa kalau “party is over” baru pada hari Senin dinihari dengan bergeletaknya mereka dengan segala posisi dan kemungkinan.

Keadaan ini bukan tidak mengkhawatirkan para orangtua mereka yang notabene rada konservatif tadi.  Saya pernah ngobrol di pesawat dengan seorang ibu yang punya dua orang anak usia mahasiswa dan suaminya profesor di sebuah universitas besar di Kanada.  Dia kawatir sekali dengan anak-anaknya yang tidak bisa mengikuti jejak ayahnya tapi hanya kuliah di universitas kecil.  Ia juga “cemburu” dengan prestasi dan upaya para mahasiswa Asia, baik yang warganegara ataupun pendatang.  Sementara anak-anak Kanada sejak Jumat sore mulai tenggelam dengan relax, fun, dan party, katanya, kalian sampai Ahad malam masih banyak yang di pustaka!

Akan tetapi secara umum Kanada memang sebuah negara yang jadi pilihan untuk tinggal.  Ia sebuah negara  modern yang jauh lebih tertib (penduduk tak boleh punya senjata!) dari AS tetangganya.  Negara di belahan Uatara bumi ini juga terkenal dengan kekayaan alam, hutan dan danau-danaunya, serta  komitmen dalam menjaga kelestarian alam.  Ini jadi salah satu kekuatan negara yang memunculkan experties dalam pemerintahannya dan bidang-bidang studi berkaitan yang diunggulkan di berbagai Univeristas di Kanada.

Jadi tak salah kalau Kanada terkenal sebagai salah satu negara maju dan yang nyaman untuk tinggal.  I missed Canada very much, but as a Malay I still choose our lovely Indonesia as my place to live.

(illustrasi: http://www.clipartbest.com)

Gaung: Salam

muslim-kid-salam-hand-drawn-vector-illustration-35473037 (illustrasi dreamstime.com)

Kita sudah familiar dengan kata salam yang maksudnya bisa kegiatan menyapa dengan suatu ucapan, saling menggenggam telapak tangan, atau suatu good wish atau doa untuk seseorang. Dengan perspektif religius yang sering dikutip oleh para penulis, salam bermakna menyampaikan pesan damai, rasa hormat, dan doa.  Jadi salam adalah penghargaan atau pemberian rasa hormat kepada orang yang disukai.

Meskipun dalam kehidupan “modern” sekarang penyampaian salam bergeser ke arah formalitas atau basa basi, namun yang menerima salam sepatutnya tetap memberikan pengharagaan balik kepada si pemberi salam.  Apabila orang menyampaikan ucapan Assalamualaikum kepada kita misalnya, maka semestinya kita jawab dengan ucapan yang sama.  Akan lebih utama lagi kalau kita balas dengan melebihkan menjadi Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.  Tambahan berikutnya adalah waridhwan.

Kata salam atau As-Salam adalah salah satu nama Allah yang berarti Yang Maha Pemberi Keselamatan.  Menyampaikan salam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, dinilai sebagai salah satu bentuk untuk menebarkan nama-nama Allah di muka bumi, bahkan yang menyampaikan salam kepada sekelompok orang dinilai satu derajat lebih tinggi.  Bila tidak dijawab maka akan dijawab oleh yang lebih baik dari mereka yakni para Malaikat.

Menyampaikan salam memang sunnah namun menjawabnya adalah wajib. Muatan sakral ini menyebabkan salam tidak dapat dianggap sebagai basa basi tapi memiliki etika dalam interaksinya.  Selain yang lebih dahulu menyampaikan salam adalah lebih baik, prinsip dasar lainnya adalah yang muda kepada yang lebih tua, yang menghormati kepada yang lebih dihormati.  Akan tetapi ketentuan usia dan penghormatan ini bisa dikalahkan oleh azas: yang sedikit kepada yang ramai, yang pergi kepada yang tinggal, yang lewat kepada yang di tempat, yang di atas kendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk.

Aturan salam yang lebih azasi adalah bahwa salam secara Islam hanya ditujukan untuk sesama Muslim.  Hal ini tentu suatu ketentuan yang given sehingga bukan untuk diperdebatkan tapi difahami dan dikerjakan saja. Kepada yang lain, seorang Muslim tetap boleh memberi salam namun bersifat umum seperti selamat pagi, semoga sukses, selamat jalan, dan sebagainya. Sementara bersalaman tangan yang diikat aturan mahram, banyak membawa berkah.

Bagaimana kalau yang akan diberi salam adalah sekelompok orang Islam yang bercampur dengan yang bukan? Salam tetap dapat dilakukan dengan niat untuk mereka yang Muslim sedang bagi yang lainnya dapat disapa dengan salam yang umum di atas.  Sebaliknya kalau ada seorang Non-Muslim menyampaikan Assalamualaikum maka orang Islam yang mendengarnya boleh menjawabnya dengan Waalikum yang artinya dan kamu juga.

Jadi tetap ada saling menghargai dan mendoakan meskipun cara dan kepercayaan berbeda.  Dengan pemahaman yang jernih, mudah-mudahan mudah terbangun saling pengertian yang kokoh dan saling menghormati dalam masyarakat kita.

Gaung: Masjid

20160405_111756-1-1Kita tentu sudah tidak asing dengan masjid yang dalam pengertian awam adalah bangunan yang digunakan untuk melakukan ibadah sholat dan ceramah agama.  Masjid artinya memang tempat sujud yaitu meletakkan kening ke lantai sebagai gerakan tubuh seorang manusia yang paling mewakili bahwa ia menyembah Allah Subhanahu Wa Taala.  Dalam arti luas, sujud itu adalah tanda tunduk  dan mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu Wa Taala.

Sang Khaliq memang menjadikan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah atau mengabdi padanya.  Dalam konteks ini Allah Subhanahu Wa Taala melalui utusanNya memberitahu manusia kebaikan yang Ia perintahkan dan keburukan yang dilarangNya.  Sebagai ujian, di alam dunia manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah dia patuh atau melanggar perintah.

Kembali ke fungsi masjid, kaidah umumnya kita dapat melakukan apa saja yang bernilai ibadah di masjid kecuali hal-hal yang dilarang.  Dalam rekaman sejarah–selain untuk sholat dan taklim–masjid dipakai untuk bermusyawarah, mengatur strategi, latihan olahraga atau bela diri, dan bahkan untuk menerima tamu asing yang bukan Islam.

Kita perlu pula  menyimak hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dalam masjid sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam dan para sahabat, misalnya berjual beli dan mengumumkan barang hilang.  Masjid wajib dijaga kebersihan dan keselamatannya serta bebas dari penggunaan untuk menyampaikan faham-faham yang menyalahi dan menyelisihi ajaran Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.

Akan tetapi masjid tidak dapat dinisbatkan pada seseorang atau sesuatu kelompok.  Seseorang yang telah menginfaqkan hartanya untuk masjid dengan ikhlas tidak akan bersusah payah agar nama dan jasanya disebut orang, apatah lagi dinisbatkan namanya pada masjid itu karena masjid sudah menjadi rumah milik Allah.  Pahala amal jariyah yang membangunnya akan terus mengalir sampai akhir zaman.

Hari ini, yang lebih kritis bukanlah membangun suatu masjid tapi bagaimana memakmurkannya yaitu meramaikannya dengan kegiatan ibadah, taklim, dakwah, dan muamalah.  Dalam iklim keterbukaan informasi dan bereserakannya pemikiran liberal saat ini, terasa sangat berat tantangan yang kita hadapi dalam menjaga keselamatan ummat, terutama generasi muda yang diiming-imingi oleh godaan duniawi.  Masjidlah jawaban dari masalah yang kita hadapi itu.

Ummat harus kita dekatkan ke masjid; generasi muda mesti kita tambatkan hatinya ke masjid yang In sya Allah kelak akan menyelamatkan dirinya dan kaum keluarganya sendiri.  Tanggung jawab orangtualah untuk menunjukkan jalan ke masjid pada anak cucunya.  Di sisi lain, para takmir (pengurus) masjid bertanggung jawab pula untuk memakmurkan rumah Allah ini.  Semuanya hanya untuk mencari Ridho Allah.  Semoga, amin.

Gaung: Layat

ziarah-kubur

(illustrasi: majelismakassar.blogspot.com)

Senin pagi dua pekan lalu menghentak satu kabar duka.  Menepati suratan gaib, Sang Khaliq telah memanggil seorang kawan yang jadi pejabat di birokrasi.  Mulai dari sanak saudara, handai tolan, kerabat, kolega, sampai ke para petinggi negeri datang melayat.

Melayat ke tempat orang meninggal memang suatu aktivitas yang dianjurkan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.  Kehadiran para pelayat diharapkan dapat mengurangi rasa dukacita dan kehilangan orang yang dicintai.  Kebersamaan juga akan meningkatkan tali silaturrahim antara tuan rumah dan pelayat ataupun antara sesama pelayat.

Kata para ulama, melayat ke tempat orang meninggal adalah guru yang terbaik.  Selain dijanjikan pahala sebesar pahala yang meninggal, para pelayat In sya Allah juga akan mendapat hikmah yang banyak.  Sebagai pelayat kita akan ingat bahwa suatu saat akan mendapat giliran sehingga terdorong untuk melakukan muhasabah diri, sejauh mana kesiapan kita menghadapinya.  Kesiapan itu tidak hanya masalah mental spiritual tapi juga keadaan keluarga dan kaum kerabat dekat di sekeliling kita.  Dalam nuansa dukacita itu akan nampak juga bagaimana sikap dan prilaku orang pada yang meninggal.

Sudah sepatutnya para keluarga dan sanak famili yang meninggal adalah yang paling tersibukkan di tengah para pelayat, meskipun penyelenggaraan jenazah adalah kewajiban sosial atau fardhu kifayah.  Namun yang paling cepat merespon fardhu kifayah ini biasanya bukan famili tapi para tetangga dan pengurus masjid terdekat,  sebagaimana yang dianjurkan.  Karena itu sering kita dengar bahwa dengan tetangga bisa lebih dekat dari pada dengan sanak famili yang tinggalnya berjauhan.

Para rekan kerja, baik atasan maupun bawahan, tentu juga akan ikut melayat.  Relasi dan kenalan juga biasanya menyempatkan diri hadir.  Tidak heran kalau banyak orang-orang tua kita dalam keadaan susah payah pun masih memaksakan melayat ke tempat orang meninggal.  Namun semuanya tak lepas dari bagaimana interaksi orang itu sebelum meninggal dengan orang-orang sekelilingnya.

Kata orang bijak, apa yang dia dapat sesuai dengan apa yang telah dilakukannya pada orang lain.  Orang tidak baik yang akan segera dilupakan adalah orang yang tangan dan lidahnya menimbulkan kesusahan pada orang-orang di sekitarnya.  Sebaliknya, orang baik sangat menjaga lisannya dan ringan tangan untuk membantu orang lain, hatinya bersih, dan mukanya senantiasa cerah.  Apatah lagi apabila dilengkapi dengan amal ibadah yang terjaga maka mungkin ia bisa jadi seorang paripurna atau insan kamil.

Ketika seorang baik meninggal maka akan berduyun-duyun orang yang melayat, ikut dalam prosesi penyelenggaraan jenazah, dan melanjutkan dengan takziah pasca pengebumian. Jika kita ikut melayat, di tengah keramaian itu hati kita juga terasa masih tersambung dengan yang meninggal dan dengan ikhlas mendoakannya.

Sungguh beruntung orang yang kematiannya membuat orang merasa kehilangan, rumah dukanya dipenuhi yang melayat, dan jenazahnya disholatkan oleh banyak orang di masjid tempat dia tinggal atau di masjid utama kotanya, sebagaimana kawan yang meninggal dua pekan lalu itu.  Semoga ia husnul khotimah dan Allah menerima amal ibadahnya.

Petahana

sumokid

Mungkin kuping kita masih agak asing dengan kata petahana yang memang baru muncul tahun 2009.  Kata ini berasal dari tahana yang artinya kebesaran, kedudukan, atau kemuliaan. Dalam lingkup politik dipakai untuk sebutan orang atau pihak yang sedang menjabat atau memegang jabatan politik; dalam Bahasa Inggris incumbent.

Petahana yang sekarang populer bila ada pemilihan kepala daerah, pertama kali dipakai untuk menyebutkan posisi Presiden SBY yang akan bertarung dalam pemilihan umum Presiden RI Tahun 2009. Sebelumnya dirasakan tidak ada kebutuhan kata ini karena Presiden Suharto ketika itu dapat dikatakan tak ada lawan tandingnya, termasuk partai politik yang mengusungnya. Karena itu petahana juga bermakna kelompok atau partai politik yang sedang memerintah yang akan mempertahankan kekuasaannya dalam pemilihan umum.

Kita baru saja selesai melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak di seluruh Indonesia untuk Gubernur, Bupati, atau Walikota di berbagai daerah.  Meskipun tingkat partisipasi pemilih kurang menggembirakan tapi dinamika politiknya tetap ramai seperti yang sudah-sudah.  Bagi yang memilih, masih menunggu hasil perhitungan suara dan penetapannya dengan berbagai perasaan dan harapan.

Dari gambaran perhitungan sementara, ada petahana yang berhasil, ada pendatang baru yang muncul, dan bahkan ada seorang calon bupati terpilih yang baru berusia 26 tahun.  Dengan izin Allah, bagi yang memang tentu merasa puas karena usahanya bersama tim memang sukses. Bagi yang belum berhasil hendaknya tidak kecewa berlarut-larut karena sebelum memutuskan maju dulu pasti sudah memperkirakan segala kemungkinan.  Masih banyak waktu dan kesempatan untuk mengabdi bagi masyarakat yang memang masih mengharapkan uuran tangan para cerdik cendekia dan para penggiat dan pembela nasib mereka.

Khusus bagi petahana yang tidak berhasil mempertahankan posisinya, hendaknya dapat mengambil hikmah yang sebaik-baik dan seluas-luasnya.  Segala peluang dan kesempatan yang sudah ditangan selama ini sebenarnya adalah modal yang sudah tersedia dengan mudah dan murah untuk melapangkan jalan untuk perioda kedua.  Seorang petahana yang kalah mungkin belum dapat memenuhi harapan dan membangkitkan tingkat kepercayaan masyarakat.  Bila pandangan itu salah, mudah-mudahan dapat memperbaikinya dengan langkah-langkah di luar kelembagaan pemerintah yang akan dilakukan berikutnya.  Bagaimanapun, terimakasih para petahana atas pengabdian pada perioda lalu; semoga jadi amal ibadah di sisi Allah Swt.

(gambar dari http://www.politicalcampaigningtips.com/incumbent-candidates-political-campaigns-for-re-election/)

Pelanggaran Sunnatullah

Entah karena makin luas dan terbukanya informasi, entah karena makin longgarnya social alarming system kita, setiap hari kita dihadapkan pada masalah2 yang meprihatinkan dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari masalah ekonomi di grass root, masalah sosial, hukum, sampai ke politik di lingkungan elit. Makin banyak kita mengakses informasi, sering kita makin pusing dan bingung jadinya oleh keadaan yg ada.

Belum habis kita terheran-heran dengan satu hal, sering telah muncul pula hal lain. Banyak kejadian merupakan anomali dari prasangka baik kita terhadap suatu sistem nilai atau kelompok orang yg berkenaan. Hari ini sudah biasa kalau kita terkejut secara beruntun oleh kejadian2 yang sebelumnya tak lazim atau tak kita sangka dapat terjadi.

Kalau dari tinjauan pemikiran spiritual, keadaan hari ini karena kita terlalu banyak orang melanggar Sunnatullah sehingga otomatis menimbulkan akibat yg tak bisa dielakkan, sesuai Sunnatullah itu. Makin lama perbaikan sikap/prilaku dan makin banyak pelanggaran itu, dampaknya makin meluncur dan membesar seperti bola salju.

Mungkin pandangan ini terasa “konservatif” tapi perlu jadi pembanding karena sudah demikian banyak pendekatan “modern” yg kita lakukan, belum ada yg berhasil sehingga bola salju itu terus menggelinding. Takkan berhasil perbaikan keadaan ini kalau tak dimulai dari dan menyentuh akar masalahnya yg menyangkut mental dan moral ini.

Kalau mau pakai bahasa yg lebih benderang: Rahmat Allah tdk turun di negeri kita atau mungkin sedang dicabut. Yg lebih mengkawatirkan lagi, kalau kita tetap juga tidak mengembalikan kerangka pikir dan perilaku pada tuntunan Ilahi, bukan tidak mungkin bukan hanya sekedar chaos yg meletup sana sini tapi Rahmat itu nanti Allah ganti dengan bala atau siksa. Naudzubillah.

Tempua

220px-BayaOnDisplay

Tempua adalah sejenis burung yang popular di Rantau Melayu; di Jawa disebut sebagai Manyar.  Burung yang makan biji-bijian ini dikenal sangat piawai dalam membuat sarang dengan menjalin rerumputan menjadi semacam kantong cantik yang biasanya digantungkannya di pohon yang tinggi.  Namun orang Melayu mengenal pepatah: Kalau tak ada berada, tak kan tempua bersarang rendah.

Apa gerangan maksud pepatah itu? Apa ada sarang tempua yang tergantung rendah?

Di kampung-kampung yang masih ada burung tempua, kadang-kadang memang ditemukan sarangnya yang tergantung rendah.  Sarang dengan jalinan indah itu tentu menarik perhatian orang atau mudah untuk jadi sasaran pemangsa burung atau telurnya.  Tapi uupss… jangan buru-buru meraih sarang itu karena sesuai pepatah itu, tentu ada sebabnya tempua membuat sarang rendah.

Sarang dari jalinan rumput berbentuk kantong yang cantik itu bila tergantung rendah, biasanya malah bukan dipakai oleh tempua tapi sering dimasuki oleh ular kecil atau jadi sarang penyengat.  Bisa jadi ini cara alamiah tempua untuk mempertahankan diri dari musuh-musuhnya, termasuk manusia yang suka mengganggu sarang mereka.  Karena itu sudah dimafhumi di kampung-kampung negeri Melayu, orang tidak mau menganggu sarang tempua meskipun tergantung rendah.

Tentu dari sini muncul kearifan lokal berupa pepatah “Kalau tak ada berada, tak kan tempua bersarang rendah”.  Meskipun sesuatu itu terlihat menarik dan bisa dijangkau, belum tentu baik dan manfaat bagi kita karena bisa jadi ada sesuatu di baliknya atau ada maksud lain.  Segala sesuatu tentu ada latar belakang dan tujuannya sehingga jangan cepat-cepat terpesona dengan kata-kata manis di bibir, seperti yang keluar dari penjual obat atau panggung kampanye.  Ketika melihat sesuatu yang sudah dipoles indah atau mendengar ucapan serta janji yang zaman ini banyak berhamburan, hendaknya kita simak dengan jeli dan arif. Menangkanlah kebenaran sejati.  Wallahu’alam.