Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘karakter’

Setiap kali musim penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) mengambang pula lah aroma sogok atau suap menyuap.  Ini bukan untuk mengajarkan hal buruk tapi sebaliknya agar melihat dengan jernih permasalahan yang kita hadapi agar kita pandai menyikapinya.

Mungkin ada yang tak sependapat, atau tak suka, atau bahkan akan minta bukti terjadinya perbuatan yang tak mudah diketahui itu.  Namanya juga illegal dan sembunyi-sembunyi, manalah mudah membuktikannya kecuali para pelakunya mengaku atau menceritakannya kemudian setelah merasa dirugikan.  Yang lebih penting adalah melihat rasionalitas masalah yang merugikan ini.

Sebagaimana yang diungkapkan media, pada proses penerimaan CPNS musim tahun 2013 ini diduga terjadi penipuan para peminat CPNS di Yogyakarta, Magelang, Sumut, dan sebagainya.  Pada umumnya mereka ditipu oleh orang yang “menembak diatas kuda” yaitu mengambil kesempatan dari proses yang berjalan padahal tanpa peran dia sama sekali.  Karena sangat berharap jadi PNS, para peminat ini mau mengeluarkan uang jutaan rupiah asal diterima.  Minat itu timbul karena berbagai motivasi seperti  dikemukakan dalam tulisan “Kenapa Orang Berebut Jadi PNS” (www.kompasiana.com/efki).  Yang jadi pertanyaan, berapa besar orang mau menyuap agar bisa jadi seorang CPNS?

Jawaban pertanyaan itu bisa kita mulai dari gaji yang diatur oleh Peraturan Pemerintah RI No. 15 tahun 2012 mengenai Perubahan Keempatbelas atas Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil.  Katakanlah untuk seorang Sarjana yang diterima jadi CPNS, setelah lewat masa sebagai calon dan menjadi PNS golongan III/a dengan masa kerja 0 tahun, ia akan menerima gaji sebesar Rp 2.064.100,- per bulan.  Bila ditambahkan dengan berbagai tunjangan, honor, dan tambahan lain yang sah, maka dengan hitungan kasar pendapatannya bisa berkisar Rp3,5 juta per bulan.

Secara normal saja atau tanpa kenaikan pangkat yang meloncat, jumlah itu akan bertambah terus dengan kenaikan gaji berkala, tunjangan yang baru, dan tambahan honor ini itu.  Sampai akhir tahun ke 4 pendapatannya bisa mencapai Rp 4 juta per bulan.  Secara mudah bisa kita hitung pendapatan rata-rata dalam periode itu adalah Rp 3,75 juta per bulan sehingga jumlah pendapatannya selama 48 bulan pertama bekerja  adalah Rp168 juta.

Lalu pada tahun ke lima setelah ia naik ke golongan III/b, pendapatannya juga akan naik menjadi sekitar Rp 4 juta per bulan atau Rp 48 juta setahun dan pada akhir tahun ke delapan dengan kemungkinan dia sudah memegang kegiatan atau jabatan struktural dan jadi anggota berbagai tim maka pendapatan itu bisa menjadi Rp 5 juta per bulan.  Dengan cara hitungan yang sama, jumlah pendapatannya dalam 4 tahun kedua adalah Rp 216 juta.   Ibarat hitungan investasi secara sederhana, sudah dapat kita perkirakan besarnya cash inflow per tahun sampai dengan 8 tahun.

Besarnya cash outflow tergantung dari seberapa besar kita mentukan initial outflow,operational outflow, dan terminal outflow.  Sementara nilai terminal outflow atau nilai akhir dari investasi akan terus membesar sepanjang seorang PNS itu masih aktif, nilaioperational outflow dapat diartikan sebagai biaya hidup yang relatif terhadap gaya hidup yang bersangkutan; dalam hal ini katakanlah 80 persen dari pendapatan perbulan atau inflow yang sudah kita hitung di atas.  Jadi paling tidak biaya hidup PNS itu sudah terpenuhi, dengan harapan masih bisa menabung sampai 20 persen dari pendapatannnya.

Tinggal sekarang mempertimbangkan besar initial flow yang mau ia tanam atau investasikan pada tahap awal untuk mendapatkan SK sebagai CPNS itu.  Nilai itu juga tergantung pada berapa lama ia akan memakai jangka waktu pengembalian modal dalam bentuk pendapatan tadi karena keuntungan yang akan didapat adalah dari tabungan (jika ada) dan pendapatannya sesudah jangka waktu itu.

Bila memakai jangka waktu pengembalian 4 tahun maka untuk diterima sebagai seorang CPNS ia akan  berani menyuap sebesar Rp168 juta;  bila 5 tahun maka ia akan siap dengan suap Rp 168 juta + Rp 48 juta = Rp216 juta.  Kalau ada yang berani lebih besar, berarti ia menghitung masa pengembaliannya lebih panjang.  Untuk jangka pengembalain 8 tahun, nilai itu adalah  Rp168 juta + Rp216 juta = Rp 384 juta.  SudahSunnatullah pula, besarnya uang yang telah dikeluarkan akan mendorong mereka yang melakukan praktik suap menyuap ini kurang memperhatikan kinerja dan mudah berprilaku koruptif dalam bekerja.

Karena itu hitung-hitungan ini bukan untuk mengajari para peminat suap tapi untuk memberi pemahaman bahwa mungkin sementara orang ada yang berani “bertarung” dengan modal sampai hampir Rp 400 juta itu.  Bila panitia penyeleksi berlaku serong, mereka akan “melelang” sampai batas itu karena juga bisa menghitungnya.  Kecuali si peminat yang dirugikan melapor, maka praktik yang dilakukan secara tersembunyi ini sulit terdeteksi karena kedua pihak mau sama mau dan sadar bahwa mereka sama-sama melanggar hukum.

Cukup panjang jalan yang harus kita lalui untuk memperbaiki keadaan yang runyam ini.  Hanya penegakan hukum yang tegas, pengelolaan penerimaan CPNS yang baik, dan hanya deengan kemauan baik kita semua berdasarkan iman yang dapat memperbaiki keadaan yang bak benang kusut ini.  Silakan ikuti tulisan selanjutnya yang berjudul: “Gaji PNS Yang Masuk Kerja Pakai Suap, Haram?”.  Mudah-mudahan manfaat.

Read Full Post »

handphoneSuatu kali masuk sebuah short message yang panjang.  Seperti biasanya, kalau yang masuk itu sebuah pesan yang panjang maka aku akan membacanya ketika waktu sudah agak longgar.  Bila itu suatu pesan penting maka akan aku tindaklanjuti; bila hanya info biasa, humor, kata-kata motivasi, atau kisah-kisah inspiratif maka yang bagus dan menarik akan aku forward pada teman-teman atau keluarga sesuai proporsi dan keperluannya.

Namun kisah inspiratif satu ini yang juga tak menyebutkan sumbernya , rasanya sangat bagus karena bernilai motivasi kewirausahaan yang aku suka dan sering sampaikan kepada paramuda.  Meski tidak diketahui apakah kisah ini berdasarkan kejadian yang sebenarnya atau fiktif, mungkin bagus untuk mengingatkan kita tentang prioritas dan memberi motivasi.  Supaya bisa dibaca oleh lebih banyak orang maka setelah aku edit seperlunya, berikut kisah inspiratif itu untuk para pembaca.  Mohon maaf bila ini ternyata sumbernya dari anda atau sudah anda baca sebelumnya.

Seorang lelaki melamar pekerjaan sebagai office boy di sebuah Kantor Bupati.  Staf kantor bupati mewawancarai si lelaki dan minta membersihkan lantai sebagai tesnya.

“Kamu diterima,” katanya, “Berikan PIN HP kamu dan saya akan kirim data yang harus kamu siapkan dan pemberitahuan kapan kamu mulai kerja.” (aslinya yang diminta itu identitas HP dengan merek tertentu yang untuk tulisan ini kita ganti saja)

Lelaki itu menjawab: “Saya tidak punya HP, apalagi PIN.”

“Maaf,” kata si staf, “Kalau kamu tidak punya HP, berarti kamu tidak bisa diterima bekerja.”

Lelaki itu pergi dgn harapan kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya dengan Rp 100.000,- di dalam kantongnya.  Lalu dia memutuskan pergi ke pasar untuk membeli 10 kg tomat.  Ia menjual tomat itu dari rumah ke rumah. Kurang dari 2 jam, dia berhasil melipat gandakan modalnya dengan melakukan kerjanya tiga kali sehingga bisa pulang membawa Rp 300.000.  Dia pun sadar bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara ini.

Ia mulai pergi bekerja lebih pagi dan pulang larut. Uangnya menjadi lebih banyak 2x sampai 3x lipat tiap hari.  Setelah beberapa waktu, dia mapu membeli gerobak, lalu truk, dan akhirnya memiliki armada kendaraan sendiri.

Lima tahun kemudian, lelaki itu sudah menjadi salah satu pengusaha besar bahan makanan.  Ia mulai merencanakan masa depan keluarga, dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.  Ketika ia menghubungi broker asuransi, sang brokerpun menanyakan PIN HPnya.  Lelaki itu masih juga punya jawaban yang sama dengan jawaban ketika ia ditolak bekerja dulu: “Saya tidak punya HP.”

Sang broker bertanya dengan penasaran: “Anda tidak punya HP, tapi sukses membangun sebuah usaha besar.  Bisakah anda bayangkan, sudah jadi apa Anda kalau punya HP?!”

Lelaki itu menjawab kalem: “Agaknya masih jadi office boy di Kantor Bupati…. Alhamdulillah.”

Moral cerita ini adalah bahwa sesuatu itu belum tentu alat atau solusi dari keberhasilan kita dalam hidup, bila ada mungkin akan jadi alat bantu.  Yang lebih penting adalah sungguh-sungguh, kerja keras, jujur, punya komitmen, dan tawakkal.

(sudah dimuat di http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/10/25/jadi-pengusaha-sukses-karena-tak-punya-pin-bb–604701.html)

Read Full Post »

Keterpaduan yang diharapkan menghasilkan kinerja (foto dari Sumut Pos).

Keterpaduan yang diharapkan menghasilkan kinerja (foto dari Sumut Pos).

Para PNS atau pensiunan mesti terganggu jika membaca ungkapan: “If I am just a little bit dumber, then I will be a PNS” yang saya temukan pada sebuah tulisan di indonesiaindonesia.com.  Mereka bisa geram, terhina, membantah, atau sebagian yang pragmatis mungkin hanya membalas dengan bilang: “suka hatilah mau bilang apa, yang jelas aku bisa menjalankan kehidupan dengan mudah dan nyaman!”

Ungkapan sarkastik ini dipakai oleh si penulis untuk menyatakan  bahwa banyak profesi PNS yang tidak membutuhkan kompetensi tinggi dan tidak pula membanggakan.   Itu jelas datang dari orang yang kecewa dengan PNS; bisa jadi ia tidak diterima jadi PNS, tidak nyaman dan kondusif sebagai PNS, dirugikan oleh pelayanan kantor pemerintah, atau kecewa pada kinerja PNS.

Laman itu menjawab kenapa banyak orang mau jadi PNS namun tidak satupun menyebutkan alasan yang idealis atau patriotik seperti: ingin mengabdikan diri bagi Negara, berusaha menerapkan ilmu yang didapat untuk kemaslahatan orang banyak, atau bla bla lainnya.  Bisa jadi memang demikian adanya karena itu mari bersikap positif saja terhadap pandangan ini dan selanjutnya kita lihat enam alasan yang nampaknya lebih berlatarbelakang alam kebendaan.

Setelah diedit dan diperkuat, alasan-alasan orang menjadi PNS adalah: 1) Untuk mendapatkan jaminan kemanan sosial (social security) di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang masih belum meyakinkan bila bekerja di swasta. 2) Tidak terlalu memerlukan etos kerja tinggi dan lebih sedikit tantangan dibandingkan dengan di swasta karena peran PNS lebih sebagai pengelola (management) dari kebijakan atau kegiatan yang dilakukan oleh dunia usaha dan masyarakat.  Sementara kebanyakan para calon yang prime quality cenderung ke multinational corporation atau mebuka usaha, yang KW berebut mengejar PNS karena tetap terbuka peluang jadi “bos” dan kaya. 3) Jadi PNS tidak akan dipecat, kecuali berbuat kriminal, sebagaimana banyak kejadian yang disaksikan masyarakat, bila ada kesalahaan paling juga dimutasi.

Alasan atau motivasi jadi PNS ini berlanjut ke arah yang lebih non-teknis , yaitu: 4) Terbuka peluang untuk mendapat fasilitas seperti kendaraan dan rumah dinas sehingga permasalahan yang mendasar ini lebih cepat terselesaikan. 5) Menjadi kebanggaan person tersebut dan keluarganya karena punya status yang dikenal masyarakat seperti guru, dosen, kepala kantor, peneliti, dan berbagai profesi yang memerlukan keahlian lainya.  6) Mempunyai status sosial favorit mengikuti pandangan konservatif, khususnya golongan tua.  Profesi PNS cukup terpandang dalam tatanan sosial kita karena ada penghasilan pasti dan masih punya gaji setelah pensiun; banyak calon mertua misalnya lebih memfavoritkan menantu kalau tidak yang kaya, ya PNS!

Menurut banyak penulis blog, mendiang Romo Mangunwijaya pernah menulis bahwa sistem pendidikan kita melahirkan minat untuk menjadi PNS karena masih mewarisi mental inlander dari zaman penjajahan dulu.  Kolonial Belanda mendidik orang supaya patuh dan taat pada pemerintah agar bisa menjadi ambtenaar (PNS zaman kolonial) yang merupakan jabatan terhormat ketika itu.  Paradigmanya adalah mereka merupakan bagian dari kekuasaan (penguasa) yang akan mengambil pajak dari rakyat.  Sikap mental itulah yang diwarisi sampai sekarang, mereka bukan pelayan dari rakyat dan pembayar pajak tapi yang mempunyai kekuasaan sehingga berhak untuk mendapatkan previledge berupa gaji, pelayanan, dan berbagai fasilitas.  Inilah yang akan menggiring para penguasa ke perilaku koruptif.

Padahal, menurut Malik bin Nabi, seorang pemikir dan penulis Aljazair yang mempelajari perkembangan peradaban Islam sejak zaman Rasulullah SAW sampai puncak kejayaannya, pertumbuhan peradaban itu mempunyai siklus yang terkait ke alam kebendaan, figur tauladan, dan sistem nilai yang hidup dalam masyarakatnya.  Bangsa yang mengedepankan kebendaan akan meluncur ke keruntuhan peradabannya, kecuali ada para figur tauladan yang dapat memperbaikinya secara efektif.

Bagaimanapun marilah kita tetap optimis karena masih lebih banyak PNS yang baik, berprestasi, dan disiplin, sembari berdoa agar sinyalemen negatif itu salah.  Pada dasarnya, nurani seorang PNS juga tetap cenderung kepada kebaikan.  Yang penting, bila anda PNS apakah termasuk yang berebut dengan alasan diatas atau bertekad akan menjadi salah satu figur yang ikut menyelamatkan bangsa ini?  Kita doakan pula para pemimpin di pusat dan di daerah seperti Gubernur, Bupati, dan Walikota saat ini punya paradigma yang menguntungkan rakyat.

(sudah dimuat di http://birokrasi.kompasiana.com/2013/10/24/kenapa-orang-berebut-jadi-pns-604538.html)

Read Full Post »

naughty-boy-gun-8190382Sudah lima belas tahun kita dalam era reformasi yang membuka pintu demokrasi dengan luas.  Bagaikan manusia, apakah kita sudah dewasa saat ini atau baru sebatas mengikuti usia itu atau malah masih berperilaku anak-anak?

Tidak ada yang salah dengan perilaku anak-anak karena sesuai dengan usianya, seorang anak-anak masih terbatas wawasan, logika, persepsi, dan pengetahuannya.  Sekalipun anak-anak, bila dididik dengan baik dan terarah secara konsisten maka insya Allah mereka akan menjadi pribadi yang baik dan berprestasi.  Namun bila kita mengabaikan pentingnya pendidikan seorang anak sebagaimana Abdul Muis gambarkan dalam sebuah novelnya yang terbit tahun 1928, tentulah ia akan menjadi  anak yang “salah asuhan”.

Seorang anak “salah asuhan” sangat sulit dikendalikan sikap dan perilakunya sehingga akan sering menyusahkan orang-orang di sekitarnya.  Nur Fazh yang memprelajari hal ini menulis bahwa perilaku buruk dan berlebihan anak “salah asuhan” antara lain: menangis dan menjerit jika ingin sesuatu, merajuk jika keinginannya tidak dituruti, suka marah dan memukul bila dikenakan hukuman, mengabaikan pertanyaan orantua, bersikap kasar dengan orang di sekitarnya, menolak berkongsi mainan dan lainnya dengan saudaranya, suka minta perhatian jika bersama anak-anak lain, suka mendapatkan milik orang lain dan kalau dapat masih minta yang baru lagi, membiarkan kamar berserakan dan tidak mau merapikan, dan tidak disiplin tidur sesuai seharusnya.

Dari sepuluh perilaku negatif tersebut dapat kita kelompokkan lagi menjadi:  1) suka memaksakan kehendak dengan berbagai cara, 2) ingin mendominasi atau menguasai hak dan milik orang lain, dan 3) tidak peduli dengan ketidakteraturan ,dan 4) tidak mau mengikuti aturan atau tidak disiplin.  Bila perilaku ini bila tidak dikoreksi sejak usia dini, maka akan terbawa terus sampai dewasa.  Setelah dewasa, ia akan banyak bersikap dan bertindak mengikuti perilaku buruk ini dalam kehidupannya.

Bila ia seorang yang bergerak dalam bidang politik atau pemerintahan maka ia akan berperilaku “salah asuhan”.  Ia akan memaksakan diri agar bisa jadi pemimpin dengan menempuh berbagai cara; bila perlu ia akan menggunakan uang atau berlaku curang.  Tanpa mengukur bayang-bayang, ia merasa pantas jadi pemimpin dan supaya itu terjadi ia tidak malu jual kecap, meskipun orang telah menilainya tidak mampu dalam mengelola sesuatu secara baik dan teratur.  Seorang yang “salah asuhan” ini juga menghalalkan black campaign dan tidak ragu untuk menabrak mekanisme dan proses yang sudah diatur.

Didorong pula oleh iklim mengutamakan kebendaan hari ini, perilaku “salah asuhan” sampai besar ini nampaknya menghinggapi banyak orang dalam masyarakat kita sehingga seakan-akan sudah menjadi perilaku kolektif.  Ketika terbawa dalam bidang politik dan pemerintahan maka akan muncul demokrasi ”salah asuhan” yang bila itu berlaku terus menerus dan massive, bisa jadi akan dianggap sebagai suatu cara berdemokrasi yang baik dan benar.  Weleh… weleh… jadilah ia sebuah demokrasi kualitas anak-anak yang salah asuhan pula.

Jangan kita sesalkan keadaan sebagai hasil dari demokrasi yang tak dewasa ini karena kita sendiri mungkin juga tidak peduli dan masih mentolerir praktek atau tak berdaya terhadap buruk yang demikian.  Bukan rahasia lagi adanya istilah “serangan fajar”, “biaya beli sampan”, “bagi-bagi sembako”, dan seterusnya yang ternyata memang dinikmati oleh kebanyak orang sambil ikut berjoget-joget berdangdut ria bersama artis-artis seksi di atas panggung hiburan dadakan.  Calon pemimpin masih dinilai dari kehebatan baliho, spanduk, atau iklan di media serta gegap gempitanya panggung-panggung kampanye bersama artis tadi dan “oleh-oleh” yang dibagikannya yang mana semuanya masih berkaitan dengan kebendaan yang demi kepuasan nafsu.  Dalam fasa perkembangan manusia, perilaku seperti inilah yang kita jumpai pada fasa anak-anak tadi.

Jadi perilaku kita yang tak dewasa dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat akan melahirkan perilaku politik dan pemerintahan yang juga tidak dewasa.  Kuatnya pengaruh kebendaan akibat memperturutkan nafsu dan lemahnya iman telah pula memperburuk keadaan sehingga jadi sebuah lingkaran syetan.  Demokrasi “salah asuhan” akan melahirkan pula para pemimpin yang tidak dewasa, tidak amanah, yang tentu diikuti tidak kapabel karena terpilih bukan atas kriteria yang baik dan benar.  Tidak ada cara lain untuk memperbaiki keadaan kecuali kita bisa memutus lingkaran syetan ini terlebih dahulu.

Caranya? Kita sudah tahu, cara cepat adalah dengan revolusi yang pasti akan banyak makan korban dan tidak konstitusional.  Evolusi akan perlu waktu yang sangat lama dan belum tentu berhasil karena susupan keentingan dan degradasi akhlak bisa jadi akan makin kuat.  Karena itu sekarang marilah kita berdoa dan mendorong agar ada pimpinan puncak dan teras elit kekuasaan yang menyadari hal ini dan dengan kuat serta berani menguakkan kejumudan ini lalu mau melangkah untuk memperbaiki keadaan berdasarkan suatu konsep dan pendekantan yang komprehensif, realistis, dan berkeadilan.  Mudah-mudahan Allah memberi taufiq dan hidayah pada bangsa Indonesia.

(sudah dimuat di kompasiana.com/efki)

Read Full Post »

iceberg dari blog gustavkaser

iceberg dari blog gustavkaser

Di daerah kutub bumi dikenal Iceberg atau gunung es yang mengapung di laut; puncaknya terlihat kecil namun sekitar 86 persen bongkahannya melebar dalam air.  Pengemudi kapal sering terkecoh dengan puncak yang kecil itu sehingga menabrak bagian bawahnya seperti pada kejadian kapal Titanic.  Sebuah kapal pesiar raksasa yang dikatakan sangat canggih ketika itu dan tak mungkin tenggelam akhirnya menjadi terumbu kepongahan manusia.

Kejadian ini mempopulerkan fenomena iceberg untuk menggambarkan sesuatu keadaan yang terlihat kecil atau sepele di permukaan tapi demikian besar dan massif di bagian bawahnya.  Fenomena ini sering digunakan pula untuk menggambarkan keadaan yang berkonotasi negatif atau mengancam seperti berkaitan dengan penyakit, perilaku buruk, dan prediksi jumlah penjahat.  Jumlah pengidap HIV/AIDS dikatakan bagaikan gunung es, hanya sedikit yang diketahui dari jumlah tersembunyi yang demikian besar.  Yang terakhir populer dikatakan dengan fenomena ini adalah tentang perilaku dan pelaku korupsi.

Suatu waktu zaman Pak Harto dulu, mantan Wapres DR Muhammad Hatta atau Bung Hatta menyebut bahwa korupsi sudah membudaya di Indonesia.  Pak Harto menjadi berang karena jumlah kasus yang terbukti korupsi di pengadilan ketika itu hanya sedikit.  Sebagai seorang negarawan yang cendekia, Bung Hatta mesti sudah melihat gelagat, iklim,  dan perilaku koruptif para pejabat negara dan masyarakat sendiri yang demikian luas bagaikan sebuah iceberg.  Hari ini fenomena iceberg korupsi itu makin terbukti.

Dalam era reformasi ini, menurut Djohermansyah Djohan, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, sejak tahun 2005 sampai pertengahan September 2013 tercatat 304 dari 524 bupati/walikota terjerat masalah hokum (Harian Pikiran Rakyat, 19 Septemner 2013, halaman 1).  Sampai dengan Juni 2013 ternyata 21 gubernur dan 7 wakil gubernur terkait masalah tipikor (Metrotvnews.com).  Entah berapa banyak pula para wakil rakyat, penegak hokum, dan pejabat tinggi yang juga tersangkut masalah yang sama.

Setelah kejadian dicokoknya Kepala SKK Migas, hari ini kita kembali dikejutkan pula oleh tertangkap tangannya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) bersama 1 orang anggota DPR RI, 1 orang bupati, dan 2 orang lainnya yang diduga terlibat suap sengketa pemilukada.  Bila seorang ketua MK, wakil rakyat, dan bupati masih mau melakukan praktik koruptif di tengah gencarnya upaya pencegahan dan penindakan oleh KPK, maka sangat sulit kita terima bila itu hanya kasuistis atau sebuah jebakan atau lainnya di luar persekongkolan suap-menyuap.

Kejadian yang dilakukan para pemuncak yang bagaikan tak kenal takut dan jera ini tentu tidak muncul begitu saja.  Perilaku koruptif  nampaknya memang seperti yang sudah dikonstantir oleh Bung Hatta, alah bisa karena biasa alias sudah membudaya di negeri kita ini.  Bisa jadi sistem dan praktik pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan kita memang menyuburkan perilaku koruptif, baik secara perseorangan maupun kolektif.

Kesepakatan buruk bisa terjadi di berbagai lini dan tingkatan, yang refleksinya nampak dalam kehidupan.  Perilaku koruptif yang dapat kita jumpai dalam masyarakat misalnya: tidak mau antri, menyerobot jalan, penyeludupan komoditas bersubsidi, uang pelicin di kantor-kantor, percaloan SIM dan passport, permainan tiket pesawat dan kereta api, suara palsu dalam pemilu, serangan fajar, dan sebagainya.  Semua itu tidak mungkin terjadi begitu saja atau bila bertepuk sebelah tangan tapi sudah menjadi suatu kebiasaan yang saling penhgaruh dengan kalangan elit.

Para elit politik dan pemerintahan yang berpotensi untuk berprilaku koruptif dengan kekuasaan mereka, juga belum terlihat efektif dalam pemberantasan budaya korupsi.  Karena sikap permisif atau pembiaran, muncul terminologi “politik transaksi” yang mengukur semua kepentingan secara materi dengan mengenyampingkan nilai-nilai moral.  Bila kesalahan menimpa para pelaku politik dan pemerintahan, mereka saling menyandera sehingga sulit mengharapkan adanya perbaikan keadaan bangsa ini secara struktural.

Upaya pencegahan dan perbaikan melalui otoritas lembaga-lembaga yang ada nampaknya belum berhasil dan bahkan menurunkan kredibilitas.  Dari pada lembaga-lembaga tetap struktural yang sudah ada, masyarakat lebih percaya pada yang ad-hoc, temporer atau yang dibentuk belakangan.   Walaupun ada suara yang berbeda, namun harapan masih ada antara lain pada KPK, Komisi Yudisial (KY), dan MK yang masih dinilai bersih.  Akan tetapi dengan tertangkap tangannya Ketua MK Rabu 2 Oktober 21013 malam, maka runtuh lagi satu bangunan kepercayaan masyarakat pada perangkat hukum di Indonesia.  Kecil harapan bila kita mengharapkan terjadinya pemberantasan korupsi secara struktural dan kultural kecuali kelak dilakukan oleh para pemimpin yang komit dan konsekuen pada nilai-nilai Ilahiah.

Bila mau melakukan introspeksi, merosotnya moral bangsa bersumber dari dua unsur dalam hati kita: iman yang ta’at Allah Swt dan nafsu yang cenderung pada keburukan.  Iman melahirkan rasa malu, sikap ta’at azas, dan amanah.  Nafsu menghilangkan rasa malu dan respek pada orang lain, mengumbar hawa nafsu, serakah, dan tamakan pada harta.  Nafsu yang tidak terkawal menjadikan manusia cinta dunia yang melahirkan materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme yang semuanya mendorong ke penghalalan segala cara untuk mencapainya.

Tentang ini, Allah Swt telah mengindikasikan bahwa manusia cenderung pada kesenangan dunia.  Apakah ia mengikuti keinginan hawa nafsunya atau dapat mengendalikannya dan menghidupkan imannya untuk mengikuti aturan Allah yang akan memberikan balasan yang jauh lebih baik kelak, sesuai QS Ali Imran ayat 14: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Jadi akar masalah budaya korupsi ini adalah lemahnya iman dan berkuasanya nafsu pada diri kita.  Selama akar masalah ini tidak diselesaikan maka upaya pemberantasan korupsi yang sudah bagaikan iceberg atau gunung es, tidak akan banyak berhasil.  Cara-cara mekanistis tanpa ruh yang dipengaruhi kepentingan tidak akan menyentuh akar masalahnya.  Para pelaku korupsi senantiasa akan mencari celah dan mereka yang baru dapat kesempatan akan menjadi pelaku yang baru.   Apalagi bila otoritas malah sibuk dengan pencitraan untuk memperkuat posisi agar bisa meraup yang bukan haknya secara sah sebagaimana kata Lord Acton (1834–1902), seorang sejarawan  Inggris mengatakan: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men.”

Bangsa ini sudah letih menghadapi berbagai ketertinggalan di depan keberhasilan orang lain.   Bila pendekatan penyelesaian masalah korupsi yang telah dilakukan selama ini belum berhasil maka perlu mengayakan dengan pendekatan baru: membenahi akidah dengan memperkuat iman dan mengawal nafsu,baik secara perorangan maupun kolektif, agar iceberg korupsi ini tidak jadi warisan.  Pelaksanaannya dapat kita mulai dari pribadi dan keluarga yang terus meluas ke cakupan yang lebih luas: masyarakat dan negara.

Akan tetapi penyelesaian masalah yang sudah membudaya atau berlaku sistemik tidak dapat dilakukan secara parsial dan setengah hati.  Kita harus punya gerakan bersama dan sistemik dengan konsep yang jelas, komprehensif, dan menjadi visi bersama ke depan.  Masyarakat, khurusnya para generasi penerus mesti dibekali dengan pemahaman dan sikap mental yang baik dan benar sehingga mereka bukan sebagai beban tapi menjadi potensi bangsa.  Perilaku pemerintahan, politik, dan kemasyakarakatan harus berorientasi pada kepentingan rakyat yang berdaulat dan makin sejahtera.

Hanya para pemimpin yang komit dan cinta pada bangsa ini melebihi kepentingan diri dan kelompoknya lah yang akan bisa melaksanakan visi dan misi membongkar perilaku yang menghancurkan ini.  Mereka harus berani secara cerdas melakukan langkah-langkah taktis dan produktif untuk melakukan pembenahan sejak pembenahan sikap mental sampai penerapan tata politik pemerintahan yang amanah dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat.  Tak terelakkan, ini adalah sebuah pekerjaan rumah yang besar dan berat untuk para pemimpin kita berikutnya.

(sudah dimuat di kompasiana.com/efki tanggal 16 Oktober 2013)

Read Full Post »

Image

Ada seorang bujang 23 tahun bernama Atep yang tinggal bersama anak-anak bujang kami.  Tadinya jejaka yang hanya tamat SD ini kerja di sebuah pabrik kue yang kebanyakan pekerjanya wanita.  Merasa kurang sesuai, ia berhenti dan cari kerja lain yang akhirnya berlabuh di rumah kami sejak lima tahun lalu, ketika tiga “abang-abangnya” masih sedang belajar dulu.

Kami bersyukur dapat menerimanya tinggal bersama karena ia sungguh cekatan dan all round sehingga bisa mengelola berbagai urusan rumah tangga.  Ia sangat rajin dan tahu apa yang harus dilakukan; jika ada hal baru yang harus disampaikan, tidak perlu pakai “siaran ulangan”.

Ia juga seorang yang menyenangkan dan senantiasa berpikiran bersih.  Ketika bicara ia berusaha dengan cara yang positif dan santun bagaikan seorang yang berpendidikan cukup, sekalipun tentang yang ia tak setuju, tanpa meninggalkan kepentingan dan esensi yang akan disampaikan.  Di lingkungan ia disenangi sesame dan sangat disukai anak-anak.  Ia pernah pula jadi juara ke dua dalam sebuah kontes nyanyi dangdut dengan hadiah sebuah rice cooker tanpa kehilangan pembawaan yang tetap maskulin.

Terlepas dari kekurangannya yang pasti ada seperti kita juga, yang istimewa darinya adalah keutamaan pribadinya itu yang tidak dibuat-buat.  Meskipun dari satu keluarga sederhana delapan bersaudara di desa, ia jujur dan tepat janji.  Oleh anak-anak kami dia dijuluki Atep Mabro yang berasal dari my brother.  Jika pulang ke rumah orangtuanya untuk dua hari maka ia selalu kembali tepat waktu.

Memang, ia sangat berbakti pada orangtuanya yang ditunjukkan dengan mengirimkan sebagian besar penghasilannya pada mereka.  Bila ada keperluan khusus orangtuanya yang mendesak, ia tidak ragu untuk “menggadaikan” haknya supaya tetap bisa membantu mereka.  Berkaitan dengan itu kami juga jadi tidak terlalu hitung-hitungan dengan si Mabro yang berkepribadian langka ini.

Entah dari mana terbentuk kepribadiannya itu.  Apakah dari keluarganya yang sederhana di desa sana atau karena ia merasa pada posisi yang tidak imbang?  Rasanya tidak juga karena kesopanan, dan kesantunannya itu tanpa adanya sikap minder tapi terasa karena pandai menempatkan diri dan kalau boleh kita sebut karena ia berlaku professional.  Yang jelas ia juga selalu mengatur waktunya sehingga saat terdengar adzan ia bisa segera berwuduk dan shalat.

Dengan segala kelebihannya dan kepantasannya disebut sebagai Mabro oleh anak-anak kami, rasanya menjadi kewajiban pula untuk memajukan dirinya sehingga punya kemampuan lebih.  Secara berangsur ia telah mulai bisa membuat kuliner khas yang sebelumnya ia belum tahu, tips dan trikcs kegiatan-kegiatan rumah tangga, bertaman sehingga taman kecil kami indah dan subur, dan menyupir.  Mudah-mudahan kepribadiannya tidak berubah dan ia masih mau bertahan agar bisa pula mengupayakannya kemajuan dirinya, misalnya dengan mendapatkan ijazah SMP, SMA, dan kalau perlu sampai sarjana atau menjadikannya seorang wiraswasta UMKM mandiri sehingga kelak bisa merubah nasibnya dan membantu orangtuanya lebih banyak.  Semoga Allah mengabulkannya.

Read Full Post »

Image

Kita baru saja mendapat sebuah musibah: jadi tuan rumah Miss World 2013.  Sebuah musibah karena kontes itu tidak sesuai norma dan nilai-nilai bangsa kita, khususnya ajaran Islam yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia.  Selain muatan acara itu tidak Islami, ternyata pemilihan yang hanya beberapa hari itu menghasilkan seorang pemenang yang mungkin terburuk!

Kembali ke sejarahnya, menurut tulisan Ishmah Rafidatuddini (Arrahmah.com, 9 April 2013), kontes yang mengekspos wanita ini bermula dari kontes kecantikan di AS tahun 1854 yang lalu mati karena diprotes.  Betapa tidak, kontes itu diselenggarakan oleh panitia yang sebelumnya berhasil menyelenggarakan kontes anjing, bayi, burung.

Lalu tahun 1951 Eric Morley menggagas festival bikini internasional di Inggris yang kemudian dimodifikasi menjadi Miss World sampai kini.  Setelah Morley mati, agar kontes kecantikan ini diterima masyarakat maka dikamuflase dengan konsep penilaian 3B yaitu Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (keperibadian).  Miss World dengan cepat menginspirasi berbagai kontes lain yang sejenis seperti Miss Universe (1952) di Amerika yang ditaja oleh sebuah perusahaan pakaian dalam.  Di Indoneisa digelar pertamakalinya kontes None Jakarta pada HUT Jakarta ke 441 22 Juni 1968.

Indonesia pertama kali ikut kontes tingkat dunia ini tahun 1982 dengan mengirimkan wakilnya secara diam-diam karena banyak ditolak masyarakat.    DR Daoed Yoesoef sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1977-1982 ketika itu menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis kontes kecantikan.  Menurutnya, kontes itu hanya untuk meraup keuntungan bisnis perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, atau salon kecantikan.  Meskipun ia lulusan luar negeri dan berpendangan liberal, ia melihat kontes itu mengeksploitasi wanita sebagai primitive instinc dan nafsu dasar laki-laki serta untuk kehidupan mewah.

Kontes kecantikan tingkat nasional baru dilaksanakan tahun 1992 dengan sponsor pabrik kosmetik, itupun sejak tahun 1997 dilarang Presiden Suharto karena kontes pamer aurat tahun sebelumnya disalahgunakan untuk mencari wakil Inonesia ke Miss Universe 1966.

Pada era Gus Dur kontes Puteri Indonesia diizinkan lagi dengan syarat kita tidak mengirimkan wakil ke Miss World atau Miss Universe.  Kebijakan yang terus beranjut ke zaman Mega ini, sejak era SBY berubah yaitu justru mendukung wakil kita ikut kontes pamer aurat sejagad hingga jadi musibah ketika kita jadi tuan rumah.  Berkaitan dengan Miss World 2013 ini, beliau masih konsisten menolaknya dengan menambahkan bahwa berdasarkan pengalamannya ada “bau tak sedap” di kontes adu cantik ini.

Memang patut kita sebut sebuah musibah karena sudah jadi rahasia umum bahwa peserta kontes itu tetap akan dinilai dari segi fisik sedangkan aspek lainnya lebih sebagai assesories saja karena tidaklah mungkin untuk menilai otak dan kepribadian seseorang hanya dalam waktu yang singkat.  Para peserta pasti akan membuka auratnya karena tidak diperkenankan memakai hijab (jilbab) dan mereka akan berlenggak lenggok di catwalk atau melakukan berbagai kegiatan dengan pakaian yang telah ditentukan.

Kita masih teringat Puteri Indonesia 2009 dari Nangroe Aceh Darussalam yang menanggalkan jilbabnya demi memenangkan kontes ini.  Setelah menang dan bertugas, ia mulai tenggelam dalam kesibukan dan hidup tidak normal sebagai seorang anak.  Ia terjerat kemusyrikan; mulai gemar semedi, membakar dupa, ritual melepas belut dan kura-kura ke sungai mengalir, serta melepas burung pipit.  Kekhawatiran keluarga ditanggapi negatif sehingga akibat beban mental yang berat, sang ibu akhirnya terpaksa memutuskan ikatan keluarga dengannya. Nauzdubillah!

Hal yang serupa berulang pada Miss Indonesia 2011.  Pasca terpilih, aktivitas dan kegiatan bebas di luar rumah Miss Indonesia 2011 yang masih berusia 21 tahun ini meresahkan keluarganya.  Tanpa diduga, ia tidak mau menerima nasehat orangtuanya lagi sehingga sang ayah mengumumkan pemutusan hubungan keluarga dengan si anak.

Namun demikian masih saja ada sebagian orang yang menganggap kontes-kontesan ini positif  dengan alasan yang di Indonesia sudah dimodifikasi, tanpa bikini, masih menjaga adat ketimuran, dan sebagainya.  Mereka lupa bahwa kontes yang pada mulanya untuk mencari duta wisata ini, telah terus berubah mengikuti pola internasional yang non-Islami agar Indonesia bisa mengirimkan wakilnya,  Akhirnya, Indonesia yang merupakan sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar, jadi tuan rumah Miss World 2013.  Sebuah musibah yang jadi salah satu fitnah besar bagi ummat Islam di Indonesia sejak meraih kemerdekaan.

Kegigihan para pejuang syari’at dan berbagai organisasi Islam untuk membatalkan acara Miss World 2013 ini membuat makin kuat pula usaha untuk terus menyelenggarakannya.  Berbagai alasan dikemukakan yang intinya adalah tidak peduli dengan keberatan yang disampaikan dan karena alasan bisnis sehingga acaranya tetap dilaksanakan di Bali.  Hikmahnya kita menjadi tahu pemikiran dan akidah para pihak dan otoritas berkaitan yang ada di negeri ini serta cara kerja yang tidak antisipatif sejak awal.  Alhasil, tanggal 28 September 2013 terpilihlah seorang wanita yang dianggap tercantik dengan gelar Miss World 2013.  Tapi apakah juga layak terbaik dari segi kecerdasan dan keperibadian bila hanya diseleksi dalam beberapa hari?

Kita patut mempertanyakan apakah yang terpilih itu seorang wanita yang pantas disebut terbaik karena hanya dalam lingkup 3B atau ia adalah seorang Miss Worst (wanita terjelek)?  Secara kodrati, wanita yang bersedia untuk mengumbar aurat dan bentuk tubuhnya dalam rangka kecantikan dan sex appeal demi popularitas yang bermuara pada uang, bukanlah seorang wanita yang baik dan mulia tapi justru tidak mempunyai kecantikan kepribadian (inner beauty).  Yang terpilih ini sudah diketahui pula bahwa sebelumnya ia pernah berpose topless di di majalah pria dewasa Rogue pada tahun 2012.  Sebagaimana yang telah disinyalir DR Daoed Yoesoef, bukan tidak mungkin ia dan para peserta lainnya akan terperosok lebih jauh ke lembah kehinaan seperti yang juga terjadi pada beberapa pemenang terdahulu.

Bagi kita sendiri sebagai bangsa, kontes ini jelas akan lebih memperburuk perubahan mindset generasi muda kita ke arah yang tidak produktif dan jauh dari kebaikan.  Mereka dengan mudah akan meniru sesuatu yang datang dari luar; bermodal tampang dan tanpa kerja keras dapat membawa mereka ke dalam kemewahan yang nampak sangat menyenangkan.  Kontes kecantikan yang tidak Islami ini jelas akan jadi inspirasi dan berpengaruh pada banyak remaja puteri sehingga mereka akan memburu kesenangan duniawi dengan bayaran apapun, termasuk mengorbankan diri atau masa depannya sendiri.

Padahal hari ini sudah banyak manusia yang suka menempuh jalan pintas dan tidak dapat lagi memilih dan memilah mana yang baik atau buruk bagi mereka.  Betapa banyaknya remaja pria tanpa rasa malu memakai anting-anting dan berpenampilan aneh.  Para remaja bercampur baur dan bergoyang-goyang di sekitar pentas musik pada jam produktif dimana mereka seharusnya sedang belajar, memboroskan waktu dengan game dan film/sinetron, tenggelam dalam hang out dan dugem, dan berbagai kegiatan sia-sia yang semuanya hanya menjurus ke perbuatan maksiat.  Betapa “hancur” pula acara-acara yang disuguhkan banyak stasiun TV.

Arus westernisasi yang sangat deras memang telah dan akan terus menghanyutkan mereka yang lemah iman atau dangkal ilmu.  Godaan demikian kuat dan pengakuan umum juga mengacu kepada westernisasi yang dibaca sebagai modernisasi.  Dalam keadaan demikian, maka tanpa pemurtadan pun ummat Islam akan lemah dan bercerai berai.

Kita sibuk dengan tetek bengek perbedaan cara ibadah yang bersifat khilafiyah, saling mengatakan sesat yang menjurus ke perpecahan, dan seterusnya.  Ketika kita juga belum berhasil sekedar menyamakan hari raya dan bertikai tentang kesesatan yang sudah nyata dari kelompok-kelompok tertentu, orang terus memanfaatkan kelemahan itu dan kedangkalan akidah kebanyakan ummat untuk kepentingan mereka.  Sebagaimana dalam QS Al-Baqarah 120, belum akan senang pihak tertentu sampai kita mengikuti agama mereka.

Bisa jadi memang banyak orang Islam yang sudah tidak peduli dan malu menjalankan agamanya sehingga lebih mementingkan duniawi.  Ilmu dan pendidikan yang dapat memberi keberhasilan duniawi diutamakan, ilmu dan ajaran agama makin ditinggalkan.  Yang sangat disayangkan, hanya sedikit para pemimpin yang menyadari atau peduli terhadap apa yang sedang terjadi.  Bila ada sebagian kita yang masih sangat memegang nilai-nilai ajaran agama hari ini, kita akan dianggap kuno, sok alim, atau aneh.  Hal ini memang sudah diprediksi oleh Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma).

Yang dapat kita lakukan untuk menghadapi fitnah ini antara lain membenahi diri sendiri dengan iman-ilmu-amal, selamatkan anggota keluarga kita dari kesesatan dan maksiat yang diancam api neraka, selalu berbuat kebajikan yang konsisten meskipun sedikit, dan membantu agama Allah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.  Baiknya pribadi-pribadi dan keluarga kita harapkan akan mengkristal menjadi masyarakat dan bangsa yang juga baik dan seterusnya.

Secara kolektif kita bisa mulai sejak melakukan penyamaan persepsi, membangun awareness ummat, menulis, menasehati, sampai ke menyampaikan rumusan yang konsepsional dan komprehensip tentang permasalahan ummat ini ke para pihak berwenang.   Juga jangan pernah berhenti berdoa agar Allah Swt senantiasa meneguhkan iman kita dan memberi kita para pemimpin yang takut padaNya dan menyayangi kita semua.  Semoga kita termasuk sebagian orang yang beruntung.

Read Full Post »

Older Posts »